TOTALITAS!
>> Monday, 17 May 2010
Mati saja kalo ga mau Hidup!
Hiduplah kalo ga mau Mati!
Hiduplah TOTALITAS!
kan kau dapati kehidupan meski kau mati!
saya tidak menakut-nakuti kawan. Kerna kehidupan tak perlu ditakuti.
Menggetarkan Jiwa, Menggugah Asa...
Mati saja kalo ga mau Hidup!
Hiduplah kalo ga mau Mati!
Hiduplah TOTALITAS!
kan kau dapati kehidupan meski kau mati!
saya tidak menakut-nakuti kawan. Kerna kehidupan tak perlu ditakuti.
Aku pernah dikritik. Kritiknya macam-macam. Yang susah adalah menjawabnya. Dan jawabannya kadang-kadang susah. Salah satu kritik tersebut adalah usiaku bertambah, tapi belum nikah. Ga maen-maen, banyak orang sering menyampaikannya padaku. Genting. To the point.
Ini krusial. Semestinya tak perlu gundah gulana menghadapi hal kayak gini. Hanya aja, rasa-rasanya koq risih ya kalo aku mendengarnya. Biasanya, dan sering bahkan! aku diam. No comment!
Nikah tak perlu diperdebatkan, justru mesti dilaksanakan. Well, nampaknya kasus ini terjadi secara sporadis, tapi kawan, sebenarnya tanpa harus menyudutkan orang-orang seperti aku, ada perasaan malu kala bersua dengan teman-teman sejawat yang telah menikah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku sudah tau hendak kemana akan diarahkan.
Tapi, okelah kawan, aku hargai pendapat dan kritikan itu. Demokrasilah...biasa...
Yang perlu aku antisipasi hanyalah keinginan-keinginan sesaat yang tak sehat. Jelas aku perlu menumbuhkan harapan-harapan agar hidup ini tak sekedar 'HIDUP', tapi justru akan membuat hidup ini terasa lebih HIDUP. Meski harta tak seberapa, yang penting punya cita-cita.
Dormansi. Selama lebih dari satu bulan aq tidak posting. Biasa kawan, alasan klise yang selalu hinggap dibenakku, SIBUK! Maklum (ah,rasanya malu untuk minta dimkalumi) selama sebulan ini aq baru beradaptasi di wilayah baru, dirjen hortikultura, kementrian pertanian. Sebagai calon PNS (begidik aq menulisnya...:( ).
Selain itu, aq kehilangan hotspot. Selama ini numpang di btaLA, sedangkan CPNS tidak bisa leluasa seperti dulu di btaLA. Beli modem belum sanggup. Jadilah posting mati suri, dormansi!
Doakan biar aq tetap bisa posting tiap hari. Biar blog ini tetap semarak, biar blog ini tetap bertahan. Biar blog ini tetap mampu menjalin komunikasi dengan teman-teman semua. Kalaupun tidak bisa tiap hari, yah...semoga tiap pekan aq bisa! Semoga...
Selasa, 6 April 2010
Saat saya buka mailgrup, eh ada puisi begini nich...menarik!!! siapa lagi kalo bukan sang maestro puisi Taufiq Ismail, coba simak dech...met menyimak!
Tuhan Sembilan Senti
Oleh: Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.
Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Pagi ini, cerah, aku sedikit melampirkan uneg-uneg. Agak menyebalkan memang, karena setiap hari selalu ada yang mengganggu jalan pikiranku. Tapi ini memang nyata. Coba bayangin dech, hal apa saja yang mungkin tidak ada dalam pikiranmu tiba-tiba saja terhampar dengan jelas dan gamblang. Tentang inilah, tentang itulah ... hhhhhhhh! sebaaaaaaaaaal! Hampir-hampir tidak ada waktu yang lapang untuk menuntaskannya. Inilah yang sering dikatakan banyak orang sebagai 'masalah'! Nah, kawan tau kan bahwa setiap orang mesti punya masalah yang berbeda. Bahkan bisa dikatakan orang yang gak punya masalah, sebenarnya dia sedang bermasalah. Masalahnya adalah kenapa dia tidak punya masalah! Waaaaaaa... binguuuung....:(
So, gimana caranya agar masalah tidak bermasalah?
Hm, aku rasa kawan tau lah caranya...., betul tidak???
Bukan. Bukan itu yang ku maksud. Ruang hampa di sini adalah jeda yang lama sekali antara postingan yang aku tulis di bulan Februari hingga hari ini. Itulah mengapa kegiatan tulis menulis ini agak berat karena menuntut konsentrasi dan konsistensi. Menyesal memang. Tapi penyesalan selalu datang belakangan. Hal yang paling membuat aku menderita sehingga 'tercipta' ruang hampa ini adalah aku sama sekali tidak membuat terobosan baru dalam aktivitas sehari-hari. Baik itu dalam pekerjaan di kantor maupun di rumah. Selalu saja tidak ada celah untuk berbuat yang terbaik. Inovasi yang brillian. Dan lagi-lagi aku, kali ini, terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja. Melelahkan. Sungguh sangat melelahkan...
Read more...Kaget. Setengah mati kagak percaya! bener, sumpah dech...!
Ceritanya begini, salah satu adik kelasku di Biologi UI menceritakan tentang skripsinya. Ngalor ngidul kemana-mana dech. Trus, ada temannya juga yang akan membuat skripsi membuat judul yang mirip dengan judul skripsiku. Tau khan? itu lho, tentang komunitas ikan. Wah, jarang-jarang tuch ada anak wanita yang mau membuat skripsi kayak begituan (begituan??? emangnya mau kayak gimana seh...?). Nah, tadinya adik kelasku ini mau ngajak temannya tadi untuk bertatap muka denganku agar bisa bertukar pendapat mengenai skripsinya. Lalu aku berpendapat, mendingan bertukar pendapat dengan yang lebih ahli, dari pada dengan orang yang gak jelas kayak saya, mending dengan dosen atau pakar. Iya khan??
Nah, dari situlah adik kelasku ini menceritakan salah satu dosen yang pernah jadi pembimbingku sedang mencari orang untuk melanjutkan S2 yang berkaitan dengan ikan. Dia dapat permintaan dari profesor di Inggris. Ternyata tuch, di Biologi UI jarang banget mahasiswa maupun mahasiswi yang mau berurusan ama ikan. Dosen ini bingung, mau nunjuk siapa? ada satu orang tapi masih kuliah S1, tentunya teman adik kelasku ini. Tanpa sengaja, dosen tersebut menggumamkan kata-katanya seperti ini, "Dulu pernah ada tuch mahasiswa, namanya siapa yaa, kala gak salah...Abdurohim gituh....". Waa, gubrak brak!!! bagai ditubruk gerobak di siang bolong! idiiih...amit-amit dech, emangnya qta apaaaaaann bo', yuuk......
Kaga kebayang dech kalo itu jadi kenyataan. Jangankan ke Inggris, keliling Indonesia aja belum sempat. Tapi, kalo jadi (insyaAllah amiiin...) berarti impian aku jadi kenyataan, akhirnya cita-citaku kesampaian juga, hiks...:)
Bilakah itu terjadi sobat?
Wallahu a'lam bishowab.
© Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP