Separuh Nafasku

>> Tuesday, 7 June 2011


Separuh nafas ku terbang
Bersama dirimu
Saat kau tinggalkanku
…salahkanku
Salahkah aku
Bila aku bukanlah
Seperti aku yang dahulu
Ada makna tergali… dari sini
dari pertikaian yang terjadi…
Kau hancurkan diriku…
Bila kau tinggalkan aku…
Kau Dewiku…
Kembalilah padaku
Bawa separuh nafasku
Kau Dewiku…

Hi ... ini bukan cerita tentang si dia, atau kekasih yang telah pergi menjauh, oh .. tidaak!
Separuh nafasku pagi ini tertahan oleh cita-citaku ke Eropa, tepatnya Inggris. Semoga bila tak ada aral melintang aku akan berangkat tahun ini. Meninggalkan jejak di Depok dan sekitarnya. Separuh nafasku akan ku bawa pergi. Dan akan ku satukan di sana, aamiin ... 

Well, apapun akan ku lakukan demi membawa pergi separuh nafasku. Ehm, ini serasa berjalan mendaki ke puncak gunung, sungguh melelahkan, dan belum tampak bukit-bukit yang landai, tempat aku melonjorkan kaki dari penatnya perjalanan. Menaruh beban yang semakin banyak dan bertumpuk. Lalu aku dirikan tenda di sana beberapa saat hingga kekuatanku pulih kembali, dan siap melanjutkan perjalanan.

But, non sense. Ini rasanya mustahil. Tak mungkin ada bukit yang landai sampai kita menemui puncak gunung, tempat cita-cita kita. Ini ibarat pertarungan hidup dan mati. Sedikit saja mengalah maka tertutup sudah harapan.

Ini ibarat melangkah di atas bara api. Waswas, waspada, penuh keteguhan, tapi juga harus dengan kecepatan. Cepat, cepat dan cepat. Tidak ada kata istirahat. Tidak ada kata mundur. Mundur berarti hancur lebur, wedeehh serem amat yak ^^

Mungkin dalam mengejar mimpi dan cita harus punya imajinasi tentang cinta. Mimpi dan cita seperti sepasang kekasih yang saling merindu. Hadeuuhh.. mulai dechh . Mereka harus disatukan dengan semangat dan 'perjuangan'. Bagai samurai dan katana. Tak terpisahkan.

Kini, kau tau sobats, separuh nafasku akan pergi, membawa asa ke langit tinggi, menembus taman-taman surgawi, mencari celah di langit sambil meliuk dan menari, mengetuk pintu Arasy lalu menggoncang singgasana Rabbku Yang Mahatinggi. Dan, disana, separuh nafasku tersengal seraya memohon kepada Rabbku agar dia disatukan dengan separuh nafasku yang lain. Disatukan di sebuah negeri yang jauh dari negeriku dilahirkan dan dibesarkan. Bukan di Indonesia. Melainkan di Inggris. Di sebuah universitas ternama di dunia.

Pending. Belum ada jawaban dari Rabbku. Karena separuh nafasku kini masih berjibaku dengan rintangan dan tantangan, hingga saatnya aku memastikan diri bahwa aku layak meraih mimpi dan cita tersebut.

Oh, separuh nafasku yang entah dimana. Semakin ku cari semakin jauh. Terbang melayang hilang ku pandang.

Aku berlari sepenuh tenaga. Tiada henti. Biarlah terjatuh. Biarlah berdarah. Biarlah terluka. Biarlah semuanya terjadi, asalkan Rabbku ridho padaku. Asalkan mimpi dan citaku tergenggam erat selamanya. Dan aku bisa memeluk separuh nafasku kembali.
...
Ada makna tergali… dari sini
dari pertikaian yang terjadi…
...
Kembalilah padaku
Bawa separuh nafasku


**saat kembali.

Read more...

[mimpi] Laskar Pelangi

>> Monday, 6 June 2011

Mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya
laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa
menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau ini kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita
laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi
menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
kalau denger lagu ini, entah kenapa selalu punya energi mimpi yang meletup-letup (*sayangnya belum meledak dan membahana hingga ke langit, lalu merekah awan, he.
Dunia anak-anak memang selalu mendekatkan kita pada mimpi dan cita-cita sepolos apapun bentuknya. Itu yang ku suka dari dunia mereka. Suatu saat Ki Dalang alias Sutidjo Djiwo yang menjadi co-host dadakan dengan Andy F Noya di Kick Andy pekan lalu mengatakan kira-kira begini, "mungkin kita harus memiliki sifat kekanak-kanakan kembali, agar semangat kreatifitas itu selalu ada". Meski saya juga tak sepakat bila sifat kekanak-kanakan diidentikkan dengan kemanjaan, merajuk, dan kenakalan, meskipun itu tak bisa dipungkiri.




Nah, kini setelah kita semua sudah dewasa, apakah masih terpikir semangat kreatifitas? semangat bermimpi dan bercita-cita? ah, betapa manisnya hidup ini bila setiap orang seperti anak-anak, semua bercita-cita dan semua bermimpi besar.



tapi ada satu hal yang membuat saya salut setinggi-tingginya dan sangat kagum terhadap dunia anak-anak, yaitu: kepolosan. Kepolosan, sebagai kejujuran anak-anak. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anak-anak tidak perlu kilah dan alasan agar orang-orang dewasa mempercayainya. Mereka jujur. Mereka terus terang. Mereka polos. Sepolos hatinya. Sepolos jiwanya.



dan saya selalu mengapresiasi setiap karya dari anak-anak, kenapa? karena karya mereka bisa dipastikan original, asli! oleh karena itu wahai orang dewasa, tolong jangan kau kotori perilaku dan jiwa mereka dengan keburukan. Jauhi mereka dari sesuatu yang membuatnya terluka. Tanamkan dalam jiwa mereka kebaikan. Kebaikan yang menjadikan mereka tumbuh dan berkembang sentosa. Sebaik-baik jiwa mereka.




hoho ... betapa asiknya menjadi anak-anak, tapi ... tak selamanya kita menjadi anak-anak kan? bahwa kita juga beranjak dewasa, itu keniscayaan. Bahwa kita menua pun tak perlu dipungkiri. Hanya saja bisakah kita tetap memelihara semangat mereka terus dalam diri kita. Memelihara jiwa kekanak-kanakan yang pernah kita kenyam sebelumnya agar kita semua selalu bercita-cita, agar kita juga mampu bermimpi untuk terus dekat dengan Rabb, Allah swt.




yuk mari ... tak perlu ragu. Siapa pun kamu, pasti mau menjadi orang-orang yang terbaik sepanjang zaman, bukan pecundang. Karena sepanjang sejarah orang-orang besar, mereka selalu punya mimpi dalam hidup dan kehidupan mereka, mereka memeliharanya sedari kanak-kanak. Jangan terjebak dengan bakat. Karena bakat hanya bonus dari Tuhan, selebihnya kita sendirilah yang mendayagunakan potensi diri. yuk mari sobats!

**
[azzam juga manusia]

Read more...

Jelang Ramadhan 1432 H

>> Friday, 3 June 2011

 
اللّهم بارك لنا في رجب و شعبان وبارك لنا في رمضان
"Ya الله berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban,
dan berkahilah kami dalam bulan Ramadhan"

Kamis, 2 Juni 2011.

Siang itu saya mendapat sms dari adik yang menetap di Srengseng Sawah. Isinya mengingatkan saya tentang pergantian waktu yang sebentar lagi beralih dari Jumadil Akhir ke bulan Rajab. Tepatnya saat azan maghrib kamis malam berkumandang maka kita, kaum muslimin telah memasuki salah satu bulan haram, sekaligus 2 bulan menjelang bulan suci Ramadhan. Plus, doa yang disunnahkan untuk dibaca saat kita berada dalam bulan Rajab dan Sya'ban hingga kita diberikan kesempatan oleh الله untuk berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan. Sebuah pesan yang membuat saya pribadi terperanjat meskipun tidak seharusnya begitu. Tak terasa waktu bergulir dengan sangat cepat. Bahkan tatkala saya masih harus melakukan perbaikan diri karena masih banyak 'pekerjaan' yang harus terselesaikan tahun ini. Persis benar apa yang disampaikan oleh sang cendekiawan besar dunia Islam, yang memperoleh syahid dalam perjuangannya, yakni Hasan al-Banna,

الواجبات أكثر من الأوقات
"Kewajiban-kewajiban yang kita miliki jauh lebih banyak daripada waktu yang tersedia"

الله pun telah mengingatkan kita,seluruh manusia, alias bani Adam untuk senantiasa mawas diri terhadap waktu. Dalam alQur'anul Karim, secara khusus الله menuangkannya dalam satu Surah tersendiri, yakni Surah al'Ashr yang bermakna "Demi Masa". Waktu terus bergulir dan kebanyakan manusia lalai. Dan tak ada yang mampu membunuh sebuah peradaban dengan begitu cepat dan menyeramkan kecuali "sang waktu" itu sendiri. Ya, "sang waktu" pula yang menggilas para raja. Semua peradaban, baik yang harum namanya maupun yang kotor, telah tumbang oleh berjalannya "sang waktu". Maka tak heran pula bila masyarakat Arab mengibaratkan "sang waktu" sebagai sebilah pedang yang tajam,
الوقت كالسّيف إذا لم تقطعه قطعك
"waktu ibarat pedang, jika engkau tidak memotong dengannya, 
pasti ia akan memotongmu"

Begitu pula Nabi SAW sudah mewanti-wanti bahwa manusia akan lalai terhadap ni'mat yang الله berikan, terutama ni'mat sehat dan waktu luang. Oleh karena itu waspadalah terhadap penghancur segala kenikmatan, yang akan menggilas sebuah peradaban, dialah "sang waktu". Maka, mulai detik ini, mari kita tekadkan untuk mengoptimalkan seluruh waktu yang kita miliki, dengan menanamkan berbagai macam kebaikan kepada siapa saja. Apapun bentuknya. Dimanapun kita berada. Karena kita sendiri takkan pernah tahu kapan "sang waktu" akan merenggut kenikmatan yang sedang kita nikmati. Cepat atau lambat ia 'kan segera menghampiri. Dan, untuk ini, Rasulullah saw menganjurkan untuk senantiasa berlindung kepada الله agar terhindar dari kesia-siaan waktu, sekaligus memohon kepada الله agar seluruh hidup dan kehidupan kita bernilai kebaikan,


اللّهم اجعل خير عمري اخره وخير عملي خواتمه
وخير أيّامي يوم ألقاك فيه

"Ya الله jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikan amal terbaik hamba di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu dengan-Mu"

Ingin rasanya berteriak pada semua orang tuk sekedar mengingatkan bahwa waktu telah sedemikian cepat hingga membuat kulit yang tadinya mulus menjadi berkerut. Rambut yang tadinya hitam berkilau kini perlahan telah memutih. Mata yang tadinya tajam kini perlahan telah mengabur. Gigi yang tadinya lengkap dan kuat, kini satu persatu mulai tanggal dan hanya menyisakan sedikit saja dalam gusi. Ingin rasanya berseru pada semua orang bahwa saya dan mereka akan segera memasuki bulan suci Ramadhan. Yang akan membaluri kita dengan rahmah dan ampunan-Nya, bila saya dan mereka bersungguh-sungguh menjalaninya dengan keimanan dan kesungguhan.


Nah, kalau sudah begitu (*apanya yang sudah?! he*), mari kita semua bersiap-siap menyongsong bulan Ramadhan dengan persiapan yang lebih baik dibandingkan persiapan kita tahun lalu. Bukankah hari ini harus lebih baik dari hari kemarin? So, tidak perlu menunggu lama sobats, mulai detik ini lakukan perbaikan, apa saja, agar kebaikan tersebut mampu menambah bobot kita di hadapan الله.

Akhirnya, dengan memohon bimbingan dan petunjuk الله kita harapkan bahwa saya dan sobats mampu menjadikan Ramadhan kali ini sebagai salah satu memori terindah dalam hidup dan kehidupan kita. Mari kita ucapkan selamat datang kepada bulan suci Ramadhan dengan penuh kegembiraan,

أهلا و سهلا يا رمضان
"Selamat datang wahai bulan Ramadhan"

sabtu dini hari.
azzam.

Read more...

Segalanya Berawal dari Niat

>> Wednesday, 1 June 2011

Sobats, mari kita luruskan niat dari sekarang. Yuk mari ...!
Tak diragukan lagi sobats, kalau kita ingin berkualitas dalam hidup dan kehidupan, maka luruskan niat dalam hidup dan kehidupan ini. Jangan salah menghadirkan niat. Jangan keliru. Mulailah tatkala kau hendak beranjak tidur, perhatikan dirimu selama seharian penuh. Adakah cela yang menyelip di hatimu? Adakah sesuatu yang merisaukanmu? Perhatikan lagi caramu. Perbaiki niatmu. Dan, berdoalah kepada Tuhanmu.

Lalu perbaiki niat juga tatkala kau bangun tidur. Apakah yang hendak kau lakukan sehari penuh. Awas, jangan keliru. Hadirkanlah Tuhanmu, selalu. Agar hidup dan kehidupanmu senantiasa berkah. Ucapkanlah basmalah, "Bismillahirrohmanirrohiim".


[derasbora]

Read more...

New Catatan Hati Seorang Istri (2)

>> Monday, 16 May 2011



Untuk kali kedua saya mengomentari buku ini. Seolah-olah tak ada lagi buku atau novel yang menarik untuk dibahas kecuali buku ini. Sebagaimana halnya novel Laskar Pelangi, buku ini membikin saya larut dalam empati yang sangat dalam. Kalimat demi kalimat mengalir penuh makna. Seolah ada tangan tak terlihat (unvisible hand) yang coba menggerakkan para wanita ini untuk menuturkan apa yang mereka alami dalam selembar catatan. Saya coba menelusuri apa yang menjadi kekuatan buku ini. Yang jelas buku ini ditulis, dituturkan, dan disampaikan oleh para wanita. Setelah menuntaskan bacaan hingga seharian penuh, saya hanya bisa menghela nafas panjang. Dalam hati berdoa, semoga saya mampu menjadi pendamping yang setia, yang mengerti, yang memahami, yang mengasihi dan menyayangi istri. Serta tidak menyakiti, tidak melukai, dan tidak menyinggung perasaannya. Semoga saya mampu menjadi suami yang penuh tanggung jawab, mampu menjadi ayah teladan, mampu menjadi sosok yang membanggakan diri, keluarga, bangsa dan umat Islam sedunia. Aamiin ...

Menurut Mbak Asma, "mencurahkan isi hati ibarat melepaskan bongkahan kecil sebuah bangunan besar bernama kebekuan, kegagalan dan ketidakberdayaan."
 Oleh karena itu penuturan para wanita ini tidak sedang ditujukan kepada wanita. Justru ini adalah sebuah pesan kepada lelaki, dimana pun ia. Mereka tidak sedang protes kepada para lelaki. Mereka tidak marah. Mereka hanya ingin di dengar. Diperhatikan. Dirasakan perasaannya sebagai manusia. Toh, sekuat-kuatnya wanita, mereka manusia juga. Butuh pendamping yang mampu memberi mereka rasa nyaman, aman, dan keteladanan. Sungguh, saya tak habis pikir, betapa tegarnya seorang wanita tatkala mengalami perlakuan buruk suaminya. Sampai-sampai seorang istri menahan lisannya dari meminta cerai karena terpikir olehnya masa depan anak-anaknya. Luar biasa dahsyat. Saya berpikir, terbuat dari apakah hati para wanita ini? Siapakah lelaki yang begitu tega menyia-nyiakan wanita mulia seperti mereka?


Saya seolah sedang membaca pikiran para wanita, secara umum. Mencermati satu persatu apa yang mereka kemukakan. Seolah-olah mereka hadir di hadapan, dan langsung berbicara denganku. Sangat lugas. Dan, jujur. Saya bersyukur bisa mendapatkan buku ini dan membacanya hingga tuntas. Meskipun buku-buku yang memiliki kemiripan dengan buku inipun saya juga punya. Penulisnya juga sama, Mbak Asma. Tapi, melalui buku ini saya lebih dalam mengenal sosok seorang wanita. Jiwanya. Hatinya. Perasaannya. Keinginannya. Maka perhatikanlah apa yang disampaikan wanita dalam hidupmu. Entah ia ibumu, istrimu atau anakmu.

Beginilah mungkin cara Tuhan mendidik hamba-hamba-Nya. Ketika seorang suami mulai menyimpang, ada istri yang mengingatkan. Saat suami mulai mengabaikan istri, sesungguhnya ia telah mulai menggoreskan luka di hati. Bahkan tatkala seorang wanita ingin mendapatkan cinta pertamanya, ia rela mengorbankan apa saja. Meskipun dikemudian hari ia dikhianati. Tak urung sang wanita mengalah demi sang buah hati. Bukan untuk suami, yang tega mengkhianati dan mengebiri. Saya pun baru tahu, bahwa tatkala sang wanita ingin menentukan pilihan kepada siapa cintanya diberikan, sesungguhnya ia melewati masa yang amat pelik, tidak sepelik lelaki. Karena ia akan sepenuhnya dalam tanggungan suami. Saat usia mulai menanjak, sementara calon yang dinanti tak kunjung datang. Atau ketika yang datang 'tidak' memberi secercah harapan. Masih ada gumpalan kekhawatiran. Jangan-jangan masa depannya tidak membahagiakan. Sebuah dilema.

Saya jadi teringat pesan Nabi SAW mengenai wanita. Agar suami mendidik mereka sebaik mungkin. Karena wanita memiliki kekurangan dalam agama mereka, yakni ketika mereka haid maka tidak diperbolehkan shalat, puasa dan berhaji bahkan membaca Al-Qur'an. Oleh karena itu mendidik mereka akan memberi manfaat yang luar biasa bagi keluarga. Menjadikan mereka wanita shalihah. Karena sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.

Termasuk juga saat pembahasan poligami. Tunggu. Saya sedang tidak berdebat boleh tidaknya berpoligami. Semua pembahasan poligami sudah tertera dalam Al-Qur'an dan hadits, serta kitab-kitab tersohor. Saya hanya ingin merasa bahwa pada saat yang sama, wanita berhak bahagia. Ini bukan masalah emansipasi. Sama sekali bukan. Hanya ingin coba berempati pada asa dan perasaan wanita. Apa yang akan mereka lakukan kalau ternyata bagi mereka tak ada hak untuk melarang suami berpoligami? Diam? Menerima sajakah? Sungguh, wahai para lelaki, cobalah dekati wanita dengan menambah sedikit sudut pandang dari mereka. Saya tidak hendak mengajari. Saya hanya ingin berbagi. Berbagi sesuatu yang saya dapatkan dari penyampaian para wanita ini. Sungguh, kalau mereka jujur, maka saya berharap dan berdo'a, semoga Allah swt menempatkan mereka dalam surga yang tertinggi. Surga firdaus yang kekal abadi. Aamiin ...

*untukmu jua

Read more...

New Catatan Hati Seorang Istri (sedikit ulasan)

>> Wednesday, 11 May 2011

Membaca buku pembangun jiwa seperti Catatan Hati Seorang Istri menjadikan kita segera tersadar akan sebuah sisi kehidupan yang begitu dekat dengan diri kita. Dialah seorang istri. Yang dari merekalah, lahir anak-anak kita. Menimangnya. Mengasuhnya. Mendidiknya. Hingga anak-anak tumbuh besar, meremaja hingga dewasa. Dan, ada sebuah sisi kehidupan yang beririsan dengan seorang istri. Dialah seorang suami. Bersamanya mengayuh biduk bahtera dalam gelombang kehidupan. Lalu mengalami pasang surut kehendak dan jiwa dalam hidup dan kehidupannya. Berlayar dalam badai, melawan gelombang besar yang akan menghempaskan bahtera rumah tangga. Akankah bahtera yang telah berlayar harus karam karena para penumpangnya hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Ataukah bahtera akan tetap melanjutkan perjalanan meskipun banyak bagian dari bahtera yang robek dan perlu diperbaiki.

Seorang istri atau wanita juga seorang manusia. Ia diciptakan Allah swt dari sulbi Adam as. Sekilas nampak rapuh, namun yakinlah dibalik keanggunannya, ia menyimpan kekuatan. Tegar bagai karang. Kokoh bagai baja. Berkilau bagai intan berlian. Bulir-bulir air matanya meneteskan banyak harapan akan suatu masa yang indah kelak di hadapan Tuhannya.

Kalau Anda kini seorang istri, duhai, betapa mulianya. Dipundakmu terpikul amanah yang sangat besar. Kalau Anda kini seorang suami, duhai, betapa mulianya. Dipundakmu terpikul amanah yang sangat besar. Istri dan suami saling beriringan dalam membangun bangunan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Betapa mulia. Betapa indah.

Read more...

Hanya Untukmu

>> Wednesday, 4 May 2011

Aku pernah merasa tak berguna dalam hidupku. Sepanjang hari hanya mengutuki diri. Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Yang aku tahu hanyalah bahwa aku harus melakukan sesuatu yang berguna demi mengusir rasa takut, rasa inferior, rasa terintimidasi oleh sesuatu ataupun orang lain.

Kini aku baru menyadari bahwa semua itu hanyalah ilusi. Semakin kita takut, maka semakin kita diburu oleh takut itu. Semakin kita merasa inferior maka semakin kita akan diburu oleh rasa itu. Dan semakin kita merasa terintimidasi oleh sesuatu atau oleh orang lain maka semakin merana lah kita. Maka dengarkan ini baik-baik sobat, dengarkan dengan seksama,
“Sadarilah bahwa betapa diri kita ini lemah, maka jangan diperlemah oleh sesuatu yang akan menambah kelemahan kita. Sadarilah bahwa kita juga menyimpan rasa takut, tetapi bukan kepada sesuatu yang tidak punya kuasa atas diri kita. Sadarilah bahwa betapa diri kita juga ada rasa inferior tetapi rasa inferior ini tidak perlu memperbudak kita hingga kita menjadi merasa tidak berguna atau merasa perlu ‘bunuh diri’. Bangkitlah sobat. Beranilah. Yakinkan diri kita dengan kuasa Tuhan Yang Mahakuasa, Yang Maha Penyayang.

Dunia bukan tempat yang nyaman buat orang-orang yang berpribadi anggun seperti kita. Tinggalkanlah menyalahkan diri sendiri. Jauhilah menakut-nakuti diri sendiri. Buanglah rasa inferior dalam diri kita. Bukankah Tuhan menciptakan semua di alam semesta ini berpasang-pasangan? Maka perhatikanlah, apa saja. Ada lemah, maka ada kuat. Ada takut, maka ada berani. Ada inferior, maka ada superior. Manusia adalah tempat segala macam kelemahan. Maka tak perlu ditambahkan kelemahan-kelemahan dalam diri kita. Kini tataplah masa depan yang gemilang. Lakukanlah hari ini sebaik-baiknya. Apa yang dipersembahkan pada hari ini jauh lebih penting dibandingkan takut akan masa depan yang tak pasti. Kita tak tahu apakah besok Tuhan masih berkenan memanjangkan usia kita di dunia. Kalau YA, maka jadikanlah anugerah tersebut sebagai kesempatan meningkatkan kualitas diri kita. Sebagai sebuah anugerah yang membuat kita semakin menyadari bahwa tak ada yang abadi di dunia. Semua hanya sementara. Begitu pula dengan rasa takut, rasa inferior, maupun rasa terintimidasi. Begitu pula sebaliknya.
Lalu apa yang perlu kita khawatirkan sobat?
Lalu apa yang perlu kita takuti sobat?
Lalu apa yang perlu kita risaukan sobat?
Kini berpalinglah dari orang-orang yang memperlemah hidup kita.
Berpalinglah dari orang-orang ataupun pergaulan yang justru menambah keterpurukan diri kita. Berpalinglah dari orang-orang atau pergaulan yang bisanya hanya menambah rejam kata-kata.
Sungguh, Tuhan teramat baik untuk memberi kita pilihan:
Hidup dengan orang-orang dan pergaulan yang buruk atau hidup dengan orang-orang baik dan pergaulan yang membaikkan.
Pilihan ada di ‘tangan’ kita.
Bertindaklah. Sekarang.
Ya, sekarang!”

(sentuhan di siang hari yang membara, tapi tak sepanas bara yang ada di jiwaku. Jiwaku merdeka)

Read more...

ONLINE

Powered By Blogger

About This Blog

Lorem Ipsum

Our Blogger Templates

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP