SCABER - lucu, polos, dan menyegarkan!

>> Wednesday, 10 August 2011


Sabtu kemaren 6 Agustus 2011 jam 4 sore untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke Departemen Biologi Universitas Indonesia semenjak saya lulus pada tahun 2004. Lama banget memang. Padahal mah males banget hadirin pertemuan-pertemuan kayak gitu. Kedatangan saya ini dalam rangka menghadiri undangan dari Badan Semi Otonom Canopy, organisasi peminat tumbuhan, yang pernah saya geluti saat kuliah. Nama acaranya adalah SCABER -- kok mirip nama tikusnya Ron, sahabat Harry Potter ye -- alias Silaturahim Canopy Bersama.
Disertai penasaran tingkat tinggi (maklum udah 7 tahun gak pernah mampir ke Departemen, padahal sering maen ke UI, glek!), akhirnya saya turut mendaftar via fb. Informasi adanya kegiatan ini saya dapat via milis angkatan.

Awalnya saya enggan, soale kalo ada undangan dari temen-temen kampus selalu gak hadir. Yah, agak nervous juga sih, kagok gitu. Dan males, paling acaranya itu-itu juga. Maksud itu-itu juga, paling banter cuma kangen-kangenan doank! terus gak ada kesan sama sekali.
Tapi demi melihat judul kegiatannya, saya jadi tertarik, sumpah dech!
Judul kegiatannya Silaturahim Canopy Bersama 2011, dengan motto: "Canopy: Selalu di hati, selalu dinanti", mantap khan? hehe...

Apalagi setalah kasak kusuk cari tau siapa aja yang bakalan datang, saya semakin tertarik. Dari angkatan-angkatan 'pertama' hingga terakhir akan datang. Termasuk para pendiri Canopy pula akan dihadirkan. Mereka adalah "para dewa" yang ilmunya udah kesohor ke seantero jagad biologi bahkan disegani "si empunya" alias "mahaguru" alias dosen-dosen seperti Profesor Somadikarta, Dr.Jatna, atau Profesor Padmi Kramadibrata. "Para dewa" itu antara lain, pertama, Mas Ary (beliau adalah peneliti di LIPI Bogor, tepatnya Herbarium Bogoriense, beliau inilah yang pernah ngajarin saya disana sewaktu saya kerja praktek bikin herbarium), kedua, Bang Iqbal, sebutannya adalah "dewa 91", diadopsi dari grup Dewa 19. Orang ini pernah saya temui di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, sewaktu saya menemani anak-anak SMAIT NF pergi dalam rangka eksplorasi. Saya masih inget banget waktu itu salah satu jas hujan anak-anak NF kecebur ke sungai dekat perkemahan, dan tak ada yang berani 'nyebur' buat ngambil. Guru NF yang menemani kami pun tak berhasil meski susah payah. Akhirnya "sang empunya hutan" alias Bang Iqbal turun tangan deh, wkwkwk ... dan berhasil mengangkat jas hujan yang sudah terbenam di dasar sungai yang cukup dalam itu. Duh malu juga nih, padahal masih ada dua cowok di perkemahan yakni saya dan Ahu, adik kelas. "Dewa" berikutnya adalah mantan Koordinator Lapangan (korlap) demonstrasi mahasiswa sekaligus mantan personil grup nasyid Izzatul Islam era dulu, dialah Bang Juki (Ahmad Marzuki) angkatan 92. Beliau ini orangnya gak pernah marah, baeeeeeeekkk banget. Tampangnya mirip orang Jepang, karena matanya sipit, ditambah lagi kulitnya yang putih hampir kekuning-kuningan, posturnya tinggi, rambutnya lurus kayak orang Jepang banget dah. Kayaknya ni orang emang keturunan Jepang dech, wkwkwk ...
Bang Juki kemudian mengajar di Sekolah Indonesia Moscow (SIM), Rusia selama 7 tahun, kemudian pindah mengajar di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Malaysia.

Nah, diiringi penasaran tingkat tinggi plus pengen ketemu Bang Juki inilah akhirnya saya memutuskan untuk hadir. Dan ternyata keputusan saya ini tepat, beneran deh, enak banget.
Akhirnya saya konfirmasi ke salah satu panitia penyelenggara sekaligus transfer HTM sebesar 40 ribu rupiah.

Baeklah baeklah ... saya singkatkan ceritanya (sory, emang disengaja coi!). Ternyata sewaktu saya menuju lokasi kegiatan pun penuh lika-liku. Menyedihkan. Bagaimana mungkin alumni gak tau sama sekali dimana parkiran motor? duh, capek dech ...
Dan memang itulah yang saya alami, padahal gak kehitung saya bolak-balik ngitarin UI bahkan melewati kawasan MIPA UI ini. Setelah menyelesaikan kuliah bahasa arab hingga jam satu siang, saya balik dulu ke rumah. Mandi, ganti baju lalu siap-siap sholat ashar, setelah itu caw! pergi melaju bersama Vega ke UI. Sebelum pergi itu saya ditelepon oleh Ahu, partner saya sewaktu ke TN BBS, hm, rupanya dia pun pengen ketemu saya.
"Assalamu'alaikum, apakabar akhi,"
"Wa'alaikumussalam, super! haha ... how are you?"
"Woi, ente ntar dateng kan?"
"iya donk,"
"Ama pasangan?" (nih orang nyebelin banget sich!)
"iya ama vega nich, haha ..."
"astaghfirullah, ditanya beneran juga"
"Lha emang beneran kok"
"Astaghfirullah, ditanya beneran juga"
"Ente ama istri, ama anak?"
"ama motor doank"
"Nerusin S3 gak?"
"Ah, gak minat. Di Malaysia mahal"
"Jiyyahhh, belagu, begini nich, yang udah ngerasain S2 di luar negeri, ngomong semena-mena, wkwkwk ..."
"Ok bro, dateng ya,"
"Ok."
Hm, udah jam 4. Nah, sempat dibuat bigung pas nyari parkiran motor sekitar gedung departemen biologi. Parkiran yang dulu saya kuliah sudah disulap jadi taman. Tersisa parkiran mobil aja. Akhirnya saya tanya ama satpam dech, "Pak, parkiran motor dimana?"
"Di sebelah mas, di sana"
Hah? dimananya? hadoh, bingung.
Ya udah deh, saya muter balik lagi. Sempat saya liat area kantin Dermaga yang ada di belakang gedung Biologi, tapi mana parkirannya? ah, ya sudah saya parkir di belakang aja, dekat gedung Geografi. Eh, gak taunya pas nyampe di sana pun gak ada yang parkir (ya iyalah hari sabtu gitu loh, pas liburan semester pula! hadeuh ...). Akhirnya saya menuju gedung Farmasi yang keliatan mentereng itu, tapi jalanannya masih gradakan. Dan di depan gedung itu cuma ada dua unit mobil yang "nogkrong", tidak ada motor yang "nangkring". Waduh, dimana ya? Akhirnya saya telepon adik kelas yang kuliah di Farmasi UI cuman buat nanyain tempat parkir motor. Tanpa diduga saya liat dari kolong jembatan koridor antara gedung Biologi dengan gedung Farmasi sebuah sepeda motor keluar dari sana. Aha! ternyata ada juga, ya udah deh saya parkir di situ aja, hehe... asiknya lagi, tempatnya terlindung, nyaman, dan berada persis di samping gedung Biologi. Akhirnyaaaa ...

Nah, udah gitu saya pun masuk ke ruangan gedung yang gak berubah sejak saya lulus. Tanpa ba bi bu saya menuju meja registrasi buat mengkonfirmasi kehadiran yang dijaga oleh dua orang cewek. Dan, ternyata saya ketemu langsung dengan salah satu panitia yang menghubungi saya.
"oh, ini Kak Andi ya, silahkan Kak," sambutnya sambil tersenyum manis.
"Ya, terimakasih."
Namun tanpa saya duga sama sekali, tanpa perkenalan, tiba-tiba saat saya memalingkan badan ke arah kanan, tepat saat itu seorang mahasiswa dengan pede-nya meletakkan tangan kirinya ke bahu saya, layaknya teman yang akrab sekali, sambil ngomong,
 "eh, Don, ngapain lo," (saya sengaja pake naman samaran biar enak ya!)
Sekilas saya bersitatap dengannya, dan saya sama sekali tak pernah mengenal dia sebelumnya. Ah, apa mungkin saya yang sudah lupa. Gak mungkin. Pasti dia salah orang. Dan ternyata dia belum menyadari kekeliruannya itu sambil tetap meletakkan tangannya di bahu saya. Bahkan dua orang cewek di depan saya pun terkaget-kaget bercampur heran. Salah satu cewek itu akhirnya bicara, "Eh, Dwi emangnya lo kenal sama Kak Andi?"
Dan ... hahaha ... saya gak bisa nahan tawa, dia refleks melihat ke wajah saya yang tengah menunduk mengisi registrasi.
"Eh, maaf Kak, kirain Doni, maaf Kak," ujarnya sambil kikuk.
Anak-anak cewek di depan saya pun cikikikan campur geli.
"Kak Andi maafin temen saya ini yak, dia orangnya emang sok tau."
"Oh, gapapa tenang aja, gak ada kesalahan kok, gak ada kesalahan di sini, kalau gak gini kita gak bisa kenalan kan?, siapa namanya, saya Andi" jawab saya, menjulurkan tangan sambil ketawa buat menutupi kekikukan dia.
Sesudah itu saya cengar cengir aja sendirian. Postur saya yang kecil manis ini emang selalu menipu banyak orang, hahaha....

Setelah itu saya disuruh memilih tanaman kaktus yang diberikan secara cuma-cuma oleh pihak panitia. Persis di depan meja registrasi tersedia meja yang dipenuhi pot-pot kecil kaktus dengan beragam bentuk.
"Ayo Kak silahkan pilih kaktusnya," ajak salah seorang wanita panitia yang berjilbab.
"Hm, ini gratis atau ..."
"Oh, gratis Kak, ayo dipilih Kak,"
"Asiiikk ..."
Aha! setelah sekian lama, akhirnya saya pilih satu yang ada anakannya.
Setelah itu saya cari-cari Bang Juki yang ternyata ada di ruang Lab depan bersama seorang alumni wanita yang sudah jadi dosen di Biologi UI.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam." jawab Bang Juki tanpa menoleh ke arah saya sambil tetap mengetik buat persiapan presentasi Canopy dari para pendiri.
Lalu, "Eh, Andi, apakabar? kok masih kecil aja, hormonnya gak tumbuh nih," katanya sambil cipika cipiki dengan saya.
"hahaha ... bisa aja Bang Juki,lagi bikin presentasi nih"
"iya, yang ada aja,"
"Wah, saya pengen ke KL ternyata ketemu di sini yak,"
"iya neh, Izis udah kesono malah,"
"iya, saya udah liat di FB Bang Afwan,"
Lalu saya menoleh ke presentasi Bang Juki, yah! ternyata gak ada foto-foto angkatan saya.
Di situ ada mba yang tadi saya liat dekat meja pot kaktus.
"Mba jadi dosen ya," tanya saya.
"iya"
"udah lama mba?"
"gak kok, baru diangkat setahun ini,"
"Juk, ruangan mau dikunci nih, sori ya Juk," sahut mba yang baru saya kenal tadi, dia alumni Biologi UI angkatan di atas Bang Juki, tapi saya lupa namanya.
"Wah diusir nih, hehe" nyengir Bang Juki.
Lalu saya dan Bang Juki beranjak ke ruang Aula tempat acara berlangsung.

Pembukaan dibuka oleh dua orang pembawa acara laki-laki dan perempuan yang lucu abis dan agak polos gitu deh (minimal bagi saya) diikuti sambutan oleh pihak panitia dan tayangan presentasi Canopy periode sekarang. Tapi sayang, slidenya kurang dilebarin. Jadinya gak keliatan dari jauh dech. Saat pembukaan itulah "dewa-dewa" hadir yaitu Bang Iqbal -- dengan tampang bewoknya, padahal dulu mah kagak gitu dech-- dan Mas Ary, yang makin tambun dan "berbobot". Sedangkan Pak Yasman, teman seangkatan Bang Juki, yang sudah jadi dosen tetap pun turut hadir.
Si pembawa acara dengan gaya yang gemulai dan mengundang gelak tawa ini mempersilakan seluruh hadirin untuk memperkenalkan diri. Duh, perasaan jadi gak enak nih.
Akhirnya saya pilih ke saf belakang, iseng pokoknya gak mau dapet giliran pertama. Sambil di saf belakang itu saya ketemu Suganda, angkatan '00 yang baru tiba. Sebelumnya ada Jia ang'02 yang memakai baju koko, trus dia bingung pas saya tanya,
"Lho kok gak pake batik?"
"Hah, emang batik ya, gak ada yang ngasi tau nih"
"Wah, ente gak di sms yak,"
"Enggak kak,"
"Yaudah, gapapa," (note : semua hadirin sebelumnya di sms agar memakai batik bercorak tumbuhan, kalo gak ada batik, kemeja pun gak masalah)
Akhirnya bersama Suganda saya duduk di belakang, dan pas waktunya perkenalan. Pas giliran saya, eh, kok semua malah pada ngeliatin gitu sich, duh makin grogi aja nich, hihihi ..."Saya Andi Abdurahim, angkatan 98, hm, trus apalagi yak? kayaknya udah yah ... lho kok diliatin gini sih, jadi grogi neh,"
Seisi ruangan meledak tertawa.
"Oh iya, saya masuk Canopy kapan ya, udah lupa, maklum kan waktu itu kan kagak ada pintu masuknya, ..."
Grrrrrr ... ketawa seruangan. Wah, saya benar-benar jadi bintang nih lama-kelamaan, hihi ...
Setelah semuanya sudah memperkenalkan diri, pembawa acara kembali beraksi,
"Nah, kan udah saling kenal yah ...,"
(what?! boro-boro kenal, liat tampangnya aja baru hari ini, hihihi ...)
" ... acara selanjutnya adalah presentasi sejarah Canopy oleh Pak Juki atau Ahmad Marzuki, dan acara ini akan dimoderatori oleh Kak Kiki,"

Haha ... ini dia yang ditunggu-tunggu. Sepertinya semangat mahasiswa demonstran masih membara, sekaligus semangat eksplorer untuk menjelajahi setiap jengkal bumi. Bang Juki menampilkan lengkap mulai dari awal munculnya ide, gagasan tentang Canopy sekaligus mengupas habis seluk beluk orang-orang di balik layar berdirinya Canopy. Mantaappphh Bang Juki!!!

Jam saat itu telah menunjukkan pukul 4.50 sore. Hm, siap-siap pamit neh, soale udah ada janji buat iftor kelas bahasa arab. Yah, begini selalu yang saya alami. Mesti ada dua kegiatan yang berbarengan dan biasanya keduanya menarik. Tapi apa boleh buat, saya tak bisa menikmati keseluruhan acara yang baru pertama kalinya saya ikuti ini, apalagi di gedung tempat saya dulu kuliah.

Yeahh, akhirnya dengan berat hati saya pamit dengan panitia tuk tinggalkan acara yang cukup berkesan bagi saya itu. Serta tak lupa ku salami pasangan suami istri yang juga teman-teman seangkatan saya yang baru hadir di ruangan, Safran & Eka. Mereka sangat surprise dengan kehadiran saya, tentu. Karena siapa sangka anak yang pemalu ini bisa hadir di tengah-tengah orang banyak, haha...

Sambil membawa oleh-oleh berupa kaktus dan makanan (nasi kotak) buat buka puasa nanti, saya beranjak keluar untuk bergabung dengan teman-teman kelas bahasa arab di Gang Pinang, Jl.Margonda Raya. Tak jauh dari kampus UI.
Hhhhh .... selesai sudah petualangan saya hari itu. Hm, kapan ya ada kegiatan serupa? Rasanya tak berharap bulan ini, so pasti. Ramadhan tahun depan, mungkin, tapi apakah saya juga masih ada dan masih berkenan hadir lagi?
Wallahu a'lam.




*****

8 Ramadhan 1432 H
*ide cerita ini sudah ada sejak 8 Ramadhan 1432 H, gak ada yang protes khan kalo saya tetap mencantumkan tgl 8 Ramadhan meski posting tgl 9 Ramadhan 1432 H? hehe...
ayo! semangat.

Read more...

Sekali Tarikan, 23 Tarawih-Witir pun Terlampaui

"Ustaz, tarawehnya jangan cepet-cepet donk, pegel nich," protes emak-emak sesaat buka puasa kepada Pak Risat, salah satu imam shalat taraweh di RW saya.
"Kita kan udah pada tua nih, taz, alon-alon aja,"
"Gampang, ntar kan gantian ama Pak Ali," sahut Pak Risat.

***

Dialog sentilan buat para imam sholat taraweh dimanapun berada. Bahwa sholat taraweh berbeda dari jumlah rakaat, iya betul, tapi mbok ya gerakannya gak perlu di percepat gitu lah. Masa iya satu tarikan nafas alfatihah bisa selesai. Tigapuluh menit, ternyata cukup untk menyelesaikan 23 rakaat taraweh plus witir.

Lagipula sayang kan kalo di bulan Ramadhan ini gak dimaksimalkan buat mendulang pahala. Coba dech sholat yang tuma'ninah. Eh, kok malah sok menggurui yak? sori, sori.
Oke dech gitu aja dari ogut, moga-moga gak ada lagi sholata taraweh yang ngebut, emangnye mau ngejar setoran ama siape? hadeuh...




*ayo! semangat.
6 Ramadhan 1432 H.

Read more...

Hari Pertama di Telaga Gaza

>> Saturday, 6 August 2011

Siang yang terik di hari pertama bulan Ramadhan telah memanggang jalanan dan bumi tempatku berpijak. Perlahan ku kayuh roda sepeda menuju telaga dekat rumah. Ingin ku rasakan airnya yang dingin. Sesuatu yang sering ku lakukan semenjak aku mengenal telaga ini. Perlahan tapi pasti kukayuh sepeda mendekati tepi telaga. Telaga ini adalah telaga yang sama dengan telaga dimana nenek moyangku mengambil manfaat dari airnya. Telaga yang tetap dijaga hingga saat ini. Airnya yang segar dan tampak jernih di pagi hari itu tak pernah menyusut sedikitpun, meski telah berlalu beberapa generasi. Dan, kini sebagai generasi ke sepuluh, aku telah menikmati segarnya air telaga. Kesegaran yang terlunaskan setelah seharian bekerja di kota yang penuh polusi dan debu-debu jalanan. Telaga itu adalah Telaga Gaza, tempat pertemuan para pejuang yang pernah berziarah ke daerah Gaza, Palestina, saat negeri itu koyak oleh para penoda sejarah kemanusiaan. Dan para pejuang itu adalah nenek moyangku para pribumi dari negeriku, Indonesia. Di telaga inilah mereka mengenang, merajut kembali memori puluhan tahun silam, meski beberapa di antara mereka tak bisa sepenuhnya kembali karena gugur di Gaza ketika muntahan peluru tentara-tentara Inggris menembus dada-dada perwira mereka. Dan di antara yang gugur itu adalah kakekku, Mustafa alBantaniy. Seorang perwira dari seluruh perwira yang terpanggil saat perang berkecamuk. Dialah yang tak pernah ku tahu seperti apa wajahnya. Yang kutahu hanyalah cerita dari mulut ke mulut teman-temannya dan ibu serta ayahku.

Sambil menikmati sore yang terus beranjak, aku duduk di tepinya yang berumput jepang. Kini generasiku yang merawatnya dari segala kerusakan. Menjaganya dari polusi air yang kerap masuk ke telaga, baik di sengaja maupun tidak. Setidaknya kini ada duapuluhan orang yang bertanggung jawab menjaga telaga ini dari pencemaran lingkungan dan pihak-pihak tak bertanggung jawab. Dan telaga ini telah memberikan kesegaran bagi penduduk desa yang kami tempati. Telaga ini sekaligus mata air yang tak pernah kering kami timba. Selalu berlimpah. Kebesaran dari Sang Maha Pencipta. Bahkan kini sekitar telaga dibuatkan taman-taman bunga yang membuat pemandangan telaga semakin indah dan menjadi tempat rehat favorit bagi para pejalan kaki maupun para pelancong.

"duhai telaga, sepertinya takkan pernah aku merasa dahaga
meski udara panas terasa
meski debu dan kerikil mengoyak sejumlah raga
ku merasai kau tlah lelah
menanggung beban
tapi disini kami tak pernah diam
slalu menjaga
sepanjang usia
tetaplah kau duhai telaga, mewangi semerbak surga,
kerna aku masih ingin menikmati hari-hari bersama,
hingga ajal menjelma serupa di mata
tetaplah duhai telaga, jernih airmu bertenaga
biar kami olah rasa hingga akhir masa"
...

***





tulisan ini tuk mengingatkanku pada pejuang di Jalur Gaza dan sebuah aliran anak sungai yang pernah menjadi tempatku mencari ikan dan "ngobak" bersama teman-teman. Kini anak sungai itu kotor, dangkal, terpolusi, dan kering.
*tetaplah berkobar pejuang di Jalur Gaza

5 Ramadhan 1432 H

Read more...

Ramadhan, emang gue pikirin!

kalo ada orang yang gak peduli ama Ramadhan mungkin gue orangnya!
abis gimana donk, masa gue sendirian yang harus menahan makan, minum dan segala macem yang bisa ngebatalin puasa,
eh, ada orang-orang di sekeliling gue lagi asik makan dan minum di warung-warung tepi jalan, masih ada yang ngerokok ngebal-ngebul di jalan-jalan,
masih ada yang ngerumpi, ngegosip, terutama wece-wece noh,
masih ada aja yang suka ngeliat yang haram,
bahkan makan yang haram,
bahkan masih ada aja yang korupsi di tengah bulan suci ini, hadoh!
masih ada aja yang tawuran,
kayaknya tuch orang demen amat  berantem ye,
emangnya enak kali ye saling jotos,
padahal gak ada yang tau siapa yang bener siapa yang salah,
menang jadi arang, kalah jadi abu,

segitu emosionalkah gue?
padahal siapa sih gue yang pengetahuan agamanya masih rendah ini,
gue bukan siapa-siapa,
tapi gue ngerasain kalo Ramadhan kali ini bikin gemes,
orang bukannya makin sadar, eh, malah makin gila,
malu donk ama Tuhan Yang Mahabaik,
yang begitu baiknya memberikan kesempatan bagi kita buat hidup,
udah gitu dikasi bulan yang penuh rahmah,
penuh ampunan,
dibalas ama surga,
bakalan dijauhin dari neraka,
eh, gak kapok-kapoknya ya ngejalanin korupsi,
ngerampok, tawuran, berkelahi, ribut ama tetangga, ribut ama temen, ngerumpi, ngegosip,
dan segala macem yang bikin noda di bulan Ramadhan,
rasa-rasanya kalo ada orang gitu di depan gue, langsung gue jotos kali!
eh, kenape gue malah jadi ikut-ikutan emosi ye,
hadoh! sabar, sabar, sabar...

gue cuman pengen bilang ke lo pade, gue gak butuh lo ngasihanin gue,
gue cuman lo pada nyadar,
emangnya dunia cuman lo doank yang hidup,
gue juga butuh kedamaian coy!
gue juga butuh udara bersih bung! dari asap rokok,
gue juga butuh nasehat ustaz, tapi kudu bener,
bukan ustaz yang bisa ngomong doank,
tapi sehari-hari gak sesuai dengan yang diomongin,

ah,kenapa ye gue bela-belain Ramadhan,
toh nih bulan cuman sekali dalam setaon,
ngoyo banget sich gue,
lah trus kalau orang-orang masih cuek aja, gue mau ngapain?
coba aja liat di jalan-jalan,
kalau masih ada yang makan atau minum gitu, emang gue bisa marah?
atau nonjok tuh orang?
alih-alih puasa gue yang batal, atau gue yang kena delik hukum,
iye ye, bener juga,
tapi bro, gue gak maksud lebay,
apa yang gue utarain niy cuman uneg-uneg lepas,
pikir gue, kok tega-teganya tuh orang makan di saat orang laen puasa,
tega-teganya tuh orang ngerokok di tengah orang-orang yang ibadah puasa,
apa gak punya hati ye?

sayangnye kita emang bukan malaysia, negeri jiran yang punya polisi syareat,
siapa aja yang ketahuan makan dan atau minum saat bulan puasa bakal ditangkap, dan dikenai denda,
atau datang ke resto di siang hari saat puasa bakal diinterogasi oleh si pemilik resto, meskipun si owner itu non muslim,
ah, gue bukan ngebandingin,
gue tau kalo nyebut negara yang satu ini bakal ada rasa ngeselin,
tapi mau gimana lagi ye,
ah, males deh,

moga-moga aja Ramadhan kali ini adalah the best Ramadhan in my life,
gue pengen lo juga begitu,
jangan sampe dah, setelah Ramadhan, kelakuan balik lagi,
urakan, norak, genit, makin jelek, makin jahat,
duh, amit-amit dah, na'uzubillahi min zalik,
seolah-olah balas dendam sama Ramadhan,
aneh bener orang kayak gitu ye,

nah, gue udah numpahin uneg-uneg gue,
gue pengen bilang ke lo pada,
kalo orang tetep gak bener selama Ramadhan, emang gue pikirin?!
toh, yang punya dosa dia ama Tuhan,
dosa dosanya dia, pahala ya pahalanya dia juga,
gue gak bisa campur tangan, atau campur kaki, apalagi campur aduk!
gak bisa!
tapi gue pengen ngasi kontribusi ke orang lain,
meskipun pengetahuan agama gue masih minim,
gue pengen ngasi bukti kepada Tuhan, bahwa gue masih peduli, bahwa gue masih pengen ngeliat orang laen berubah melalui tangan gue,
persoalan dia dapat hidayah ataw kagak, itu mah urusan Tuhan,
yang penting gue udah nyampein,
bukti bahwa gue udah berbuat ketimbang ngedumel dalam hati, ataw malah diem pas ketemu orang-orang kayak gitu,
bukankah diem itu selemah-lemahnya iman, bener kagak?

ah, udah ah, gue gak mau ceramah, bukannya sok alim,
soale gue bukan ustaz ataw guru ngaji,
so, maapin gue kalo ada salah kate,
maap maap lah,
kalo ada kata-kata kasar maapin juga ye, soale gue makhluk kasar bukan makhluk halus,
kalo Tuhan aja Maha Pemaaf dan Maha Pengampun,
masa kita gak bisa maapin kesalahan orang,
ok coy?
segitu aja ya ...
hehehehe....





*ayo! semangat.
*judul di atas saya sadur dari buku "Palestine, emang gue pikirin" karya Shafwan Albanna.
4 Ramadhan 1432 H

Read more...

Sahur Pak Haji! Sahur ... !!

Tadi, jam 04.30 wib saya kembali keluar rumah tuk menunaikan sholat subuh di masjid. Brrrrrr .... cukup dingin juga, apalagi angin berhembus cukup kencang. Mungkin kita perlu pemberitahuan cuaca dari media massa seperti televisi atau radio sebelum beranjak keluar rumah seperti halnya bila kita berada di negara-negara empat musim. Ah, tapi kalaupun gak ada gak apa-apalah. Ini sih udah biasa. Sebelum ramadhan pun cuaca seperti ini kerap dialami. Hanya saja ramadhan kali ini sepi. Sangat sepi bahkan. Tahun lalu biasanya jam segini dari rumah-rumah akan berhamburan anak-anak, remaja putra yang bersarung dan berkoko plus peci, maupun para gadis sebaya yang bermukena, lalu bapak-bapak, maupun ibu-ibu yang bergegas menuju masjid tuk sholat subuh di masjid. Beriringan anak dan bapak, para remaja, atau pasangan suami istri, hm...serasi nian.

Tapi saya sudah tak jumpai pemandangan demikian. Saya hanya menduga bahwa sebagian besar penghuni RT-RW yang saya tempati bapak-bapak atau ibu-ibunya sudah sepuh. Umur semakin beranjak, kemampuan badan buat bergerak pun sedemikian terbatas. Sedangkan anak-anak mungkin lebih memilih tidur atau sholat di rumah ketimbang 'lari' ke masjid, karena toh orangtua mereka pun lebih memilih sholat di rumah. Hanya segelintir saja anak-anak yang melangkah ke masjid. Itu pun belum tamyiz, masih bocah, dan tidak ditemani orangtuanya. Hm, salut dah buat bocah-bocah itu.

Pun biasanya saat sahur tiba, gang RT yang saya tempati selalu heboh dengan ulah 'petugas sahur dadakan'. Sampai-sampai orang yang masih terlelap pun sontak terbangun saking kagetnya oleh suara-suara gaduh yang dibunyikan anak-anak remaja kami. Bahkan teknik buat membangunkan orang-orang yang terlelap agar bangun sahur pun cukup bervariasi. Mulai dari sendirian dengan cara memukul-mukul tutup kaleng bekas, atau memukul-mukul tutup tong sampah yang terbuat dari besi atau pintu pagar. Tapi karena cara ini terlalu kasar dan banyak menimbulkan protes warga maka esoknya teknik membangunkan pun diubah yakni dengan cara membawa bedug yang diarak memakai gerobak. Dengan suara yang bertalu-talu tetabuhan bedug itu ditambah teriakan yang serak-serak becek, "sahur ... sahur ... sahur ... sahur ...!" menambah riuh suasana subuh yang hening. Biasanya kalo pas melewati rumah kami, mereka akan berteriak, "Pak Haji, sahur, sahur...!". Dan biasanya entah ummi atau abah akan menyahut dari dalam rumah, "Udah! udah bangun!".

Kami tak pernah mempersoalkan apakah mereka juga ikut puasa atau tidak, karena kami pun mengenal anak-anak remaja ini. Sepanjang yang kami tau sih, mereka tidak pernah terang-terangan makan di depan kami atau merokok saat siang hari. Biasanya mereka malu juga kalau ketahuan gak puasa. Apalagi dengan polosnya bila mereka ditanya, "Puasa gak lo?". Mereka menjawab, "Puasa pak haji."

Ah, mungkin bukan hingar bingarnya yang saya rindukan. Namun keinginan saya tuk melihat kembali orang-orang yang semangat bersahur, dan para jama'ah anak-anak, remaja, bapak-bapak, maupun ibu-ibu yang seolah-olah berlomba-lomba menuju masjid. Ah, ya, ya, asiknya berpuasa di negeri seperti ini. Mungkin inilah yang selalu dirindukan para perantau di negeri orang. Kebersamaan menyambut puasa Ramadhan yang tak mereka temui di negeri dimana mereka tinggal sekarang.

Sekarang, ah tinggal kenangan. Hanya seserpih masa kecil yang tersisa. Para remaja yang sekarang mungkin lebih banyak menyibukkan diri di kantor, kelelahan mencari nafkah tuk mendambakan pasangan yang kelak menemaninya di masa depan. Lalu membawa lelahnya itu ke rumah dan terlelap dalam mimpi. Maupun para gadis yang menunggu sang pangeran menjemputnya, entah percaya atau tidak bahwa sang pangeran tak kunjung datang. Atau para orangtua yang lebih memilih 'bertapa' di rumah ketimbang melelahkan diri ke masjid meskipun ganjaran kebaikan bagi orang yang sholat berjamaah di masjid kerap berdengung-dengung di telinga.

Kadang saya terkikik sendirian menyaksikan bocah-bocah kecil melangkah gontai ke masjid, meskipun mata mereka masih belekan atau setengah mengantuk setengah tersadar. Ada kebanggaan melihat mereka. Semoga masih ada semangat dalam dada mereka tuk menebar kebaikan di masa depan. Semoga mereka kelak menjadi ayah-ayah yang membimbing anak-anaknya tuk sholat subuh berjamaah meskipun dingin sedemikian menggigit, meskipun panas menguar, meskipun para orangtua mereka memilih berhenti.

Inilah subuh yang sepi di bulan yang kita dijanjikan akan menangguk pahala berlipat-lipat, namun kehendak kita selalu terpatah-patah untuk menyambutnya. Lalu kalau tidak tahun ini, kapan lagi kita bisa meraih untung di bulan yang penuh rahmah dan ampunan serta dijanjikan surga yang penuh kenikmatan? Duh, lama-lama rungsing euy, mending dijalanin aja deh, yang penting konkret, yang penting gak pernah berhenti tuk berbuat. Ayo ayo bergegas abang, adik, mpok, encang, encing , nyak, babeh mumpung Ramadhan nehh!
Kalau di bulan Ramadhan aja kayak begini pegimane abis ramadhan yak? hadeuh ...




*ayo! semangat donk :))
3 Ramadhan 1432 H

Read more...

Sholat gak?

>> Tuesday, 2 August 2011

Saat saya menuju ke masjid untuk sholat subuh, seorang anak kecil sambil memainkan sarung yang terpilin berjalan ke sebuah rumah dekat masjid lalu berdiri dekat pagar rumah, dan berteriak, "Randi! sholat enggak?"
tidak ada jawaban.
"Randi! sholat enggak?"
terdengar jawaban dari dalam rumah, "Ntar, duluan Yo!"
(dalam hati sering berbisik, emang kalau dia kaga sholat, ente juga enggak sholat juga? yah namanya juga anak-anak, selalu ce-es-an, selalu iringan, bila satu begini, maka yang lain juga begitu, hehe. Dulu saya juga begitu sih, hehehe..... Enggak enak kalo gak ada temannya).

Sesampainya di masjid ternyata sekumpulan anak-anak sedang duduk-duduk di teras masjid. Kira-kira ada sepuluh anak disitu. Biasanya mereka belulm mau masuk ke masjid kalau azan belum berkumandang. Satu anak yang berbadan besar menjadi center of excellent dibanding anak-anak yang lain yang berbadan lebih kecil.

Saya tau persis kelakuan anak-anak ini. Sebelum sholat selalu rame-rame kumpul, dan bila sholat selalu bikin rusuh di shaf paling belakang, selesai sholat langsung bubar lalu kumpul kembali sambil merencanakan permainan. Kadang kalau ada petasan, maka tak ayal suasana hening berubah jadi hingar bingar.

Selama seminggu anak-anak sekolahan libur menyambut bulan suci Ramadhan. Betapa asik mereka. Entah puasa atau tidak bagi mereka libur adalah bermain sepuasnya. Tidak ada guru. Tidak ada tambahan PR meskipun selalu ada tugas pelajaran agama selama Ramadhan. Biasanya sebuah buku yang harus diisi sebagai tanda mengikuti taraweh tiap malam ataupun catatan ceramah, yah walaupun saling contek atau dibiarkan kosong. Toh, diisi atau tidak diisi tetap ada nilai dari guru agama.

Nah, ngomong-ngomong selama Ramadhan ini anak-anak disekitar kita sholatnya rajin enggak? hayoo, ajak anak-anak sholat, mumpung Ramadhan, rame-rame ...


*ayo! tuk kebaikan.
2 Ramadhan 1432 H

Read more...

Kandangin Nafsu Lo!


Sabtu kemaren tanggal 30 Juli 2011 jam 9 pagi, pas mau ke kelas bahasa arab di FIB UI, saya melewati koridor sebelah kantin sastra dan melihat poster yang kontennya dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

Saya pikir, ah, biasa-biasa aja, seperti yang laen. Tapi tiba-tiba mata saya tertumbuk pada kalimat yang tertera pada poster tersebut. Sebuah kalimat yang terlontar dari sosok yang melegenda di blantika mahasiswa. Kalimat seorang asli betawi. Kalimat yang tertera itu dinisbatkan pada (Alm.) Ustadz Rahmat Abdullah.

Isinya: "jangan cuma ayam doank lo kandangin, kandangin juga nafsu lo!" (Ust. Rahmat Abdullah, dalam film Sang Murobbi)

Unik. Menarik. Entah karena saya berada di Fakultas Ilmu Budaya, yang isinya notebene mahasiswa en mahasiswi sastra yang selalu pengen "nyastra" atau hanya pas "kebetulan" saja nemu kayak begonoan. Tapi kata Ustadz Arifin Ilham, tidak ada kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah menjadi kehendak Allah swt. Sepakat dah ustadz! hehehe...

Betul banget tuh. Kandangin nafsu, kalo bisa sampe akhir hayat biar kaga liar. Nyok mari, rame-rame kandangin nafsu!
Ayo mpok, bang, encang, encing, nyak, babeh, kasi tau sekampung, biar di bulan suci ini dan seterusnye kagak ada lagi tawuran antar warga kayak kemaren, amit-amit dah! malu-maluin. Apalagi kemaren juga ada tawuran antar ormas, na'dzubillahi min zalik. Mau jadi apa tuh manusia. Mau puasa kok tawuran. Apakah mereka juga puasa? mungkin puasa, tapi ya itu tadi kagak kandangin nafsunya! hiiiii...ngeri.

di bulan suci ini juga saya kembali ber-azzam untuk menulis, menuntaskan tulisan yang saya niatkan tuk jadi buku. Meskipun kenyataannya kagak jadi juga. hiks ... (numpang curcol bang, mpok!)

Oke deh segitu aja dari saya. Moga-moga bulan Ramadhan kali ini kita semua mampu menjalaninya dengan baik dan semakin berkualitas.
Ahlan wa sahlan ya Ramadhan!
Ramadhan mubarak



*ayo semangat! meraih kebaikan.
1 Ramadhan 1432 H

Read more...

ONLINE

Powered By Blogger

About This Blog

Lorem Ipsum

Our Blogger Templates

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP