aku ingin terus menulis!

>> Sunday, 10 July 2011

aku ingin tetap menulis,
dan terus menulis,
tanpa henti,
apapun yang terjadi
meskipun tak ada yang mempedulikan,
aku tak peduli,
sebab aku menulis bukan untuk mereka,
aku menulis untuk diriku,
aku menulis untuk melukiskan jiwa para pelaku kehidupan,
kebahagiaan,
kedukaan,
kegetiran,
kegalauan,
keputusan,
kenyataan,
kekalahan,
kemenangan,
aku ingin lukiskan apa adanya,
agar setiap jiwa memahami,
betapa kehidupan begitu berwarna,
punya arti di setiap waktu,
tanpa tergantung dari siapa pelakunya,
aku pun ingin mewarnai,
tanpa harus takut terwarnai,
aku berani,
karena itu aku menulis!



*berlari menuju Tuhan.

Read more...

"Boi!"

>> Wednesday, 6 July 2011

saia memanggilnya, "Boi!"
begitu pula para jejaka yang lain.
jangan salah kaprah kawan, panggilan ini adalah panggilan keakraban,
bila kau sudah "berani" memanggilnya "Boi!" itu artinya kita sudah saling rela untuk berteman. Lengkap dengan segala kekurangannya, hehe...

entah sejak kapan panggilan ini dimulai,
menurut cerita dari orang kedua dan ketiga, panggilan "Boi!" bermula ketika seorang office boy di bimbel kami dulu sering mengakhiri kalimat obrolannya dengan kata "Boi!" (mengucapkannya harus terpisah yaitu "Bo" + "i", bukan "Boy!", mengerti kan maksud saia?). Tapi pengertiannya sih sama saja, yaitu sobat (laki-laki). Masih ingat Laskar Pelangi jilid dua? di buku Sang Pemimpi, banyak dialog antara Ikal dan Arai, maupun yang lain selalu memakai sebutan "Boi!" (tapi pengucapannya "Boy!").

maklum saja, dulu para punggawa bimbel semuanya adalah para jejaka, belum nikah pula!
sedangkan sang office boy ini sudah menikah.
maka bisa ditebak bila obrolannya seperti apa. Tapi teman-teman saia tentu saja santun, tidak blak-blakan. Masih ada rasa risih dan malu. Waktu itu saia belum bergabung dengan bimbel. Saia kira itu hanya panggilan iseng saja, tapi ternyata ada sejarahnya juga.

Dan, kini bila berkomunikasi melalui ha-pe maupun telepon, maka selalu dibuka dengan pertanyaan, "Ada apa Boi?"
namun kini, setelah lewat satu tahun, saia tidak mendengar panggilan itu lagi. Sebuah rindu yang tak berbilang, sungguh ingin bersua dengan mereka. Terutama sang pelaku utama dari pagelaran bimbel kami, yakni sahabat kami semua, "Maw!"

Lelaki yang gigi serinya ompong satu di bagian atas itu,
yang tersenyum getir bila mesti mengingat masa lalunya,
ya, sahabat kami semua itu telah menjadi yatim piatu sejak duduk di sekolah menengah pertama, namun ia tegar setegar-tegarnya, ia mampu memperlihatkan bahwa ia mampu bertahan meski kegetiran itu masih terasa, ia adalah mantan ketua BEM di salah satu fakultas di sebuah universitas negeri di jakarta,

ia yang tak mau menampakkan raut kesedihan di hadapan kami semua, karena baginya itu adalah masa lalu,
justru yang terjadi adalah kebalikan, kami yang selalu merepotkannya,
kami yang seringkali curcol kepadanya,

begitulah kenyataannya,
tapi saia rasakan beban mental yang sungguh berat menggelayuti,
ia belum menikah, saat ini,
sementara kakak dan keponakannya butuh perhatian darinya,

kawan, sudah saia bilang padamu, panggilan "Boi!" bukan panggilan biasa, ia adalah panggilan keakraban, lengkap dengan segala kekurangan,
dan ketika saia mengucapkan sekali lagi, di pelupuk mata selalu hadir bayangan sahabat kami itu, lengkap dengan sunggingan senyum getirnya, lengkap dengan gigi ompongnya,
ya, dia adalah sahabat kami semua, "Maw!"

saia tahu kau disana galau, kawan
kami semua pun mengerti kegelisahan yang sering hadir dan membuatmu tidak bisa tidur nyenyak semalaman, kami ingin hadir bersama, agar resahmu jadi bahagia, kami hadir agar pelupuk matamu tak tergenang airmata, namun kami tahu kau tak pernah menangis karena itu, karena bagimu semua adalah kenyataan yang mesti dihadapi, ungkapan yang sering kau lontarkan, "Hidup sudah susah, jangan dibikin susah lagi!"

hari ini, kami ingin hadir bersamamu,
meski dalam bayanganmu, sahabat kami, "Maw!"



*persembahan tuk sobat kami semua, "Maw!"
dunia karya n cita

Read more...

Light!

>> Tuesday, 5 July 2011

sekilas cahaya
berkelebat di wajahku
pias aku tak berdaya
lantas diam terpaku

...

Now or never!
yes, you are the young man!
but, in the next time you'll be ...

...

Enyahlah masa lalu
jangan sering bayangi aku
dimana masa depan
aku kan tuju

...

bila pagi menyaput malam
hilang sudah kelam temaram
apatah senja kian menikam
tapi dosa trus menghunjam

...


*dunia karya n cita
dingin!!!

Read more...

Monyet (jadi) Entrepreneur

>> Sunday, 3 July 2011

tantangan tuk jadi entrepreneur kemarin, "monyet aja bisa jadi entrepreneur!", so, jangan kalah ama monyet!!

sori kawan, kalimat di atas emang sangat provokatif, sarkasme, tapi begitulah ketika usaha penyadaran tuk bangkit melawan kemalasan dan ketakutan tuk jadi entrepreneur sudah sangat akut.

orang yang mengemukakan kalimat tersebut bukannya tanpa alasan memakai kata "monyet". Menurutnya, jaman sekarang, di Indonesia perlu ada penyadaran khususnya di kalangan anak muda bahwa menjadi entrepreneur harus dimulai sejak dini. Di Jepang saja, monyet sudah dipekerjakan menjadi waiter/waitress, pengganti manusia. Alasannya, monyet bisa dibayar sangat murah, cukup diberi pisang saja, serta monyet tidak pernah unjuk rasa! wkwkwk ...

Dan orang tersebut saia rasa punya 'wewenang ilmiah' (minjem istilahnya Andrea Hirata) untuk mengemukakannya. Karena ia juga seorang entrepreneur dan sekaligus mantan mahasiswa berprestasi sewaktu kuliah di UNSOED, Bang Zaenal "JAY" Abidin (43).

buang semua alasan yang akan membatalkan niat anda tuk jadi entrepreneur. Karena semakin banyak alasan semakin kecillah peluang anda tuk jadi entrepreneur.

tuk jadi entrepreneur hanya diperlukan satu keterampilan saja, yaitu
 "KEBERANIAN UNTUK MENJUAL",
selebihnya adalah mengelola uang. Mulai saja dari yang terkecil, lalu tingkatkan kemampuan diri anda perlahan-lahan. Tahukah anda inti dari manajemen? Inti dari manajemen adalah,
"GETTING THINGS THROUGH THE OTHERS"

kalau anda saat ini berposisi sebagai karyawan, niatkan jangan mau seumur hidup jadi orang gajian (mirip judul bukunya Valentino Dinsi).

kalau anda saat ini sebagai pelajar atau mahasiswa, maka prioritaskan yang utama, prioritaskan yang permanen. (Nah, sampe di sini agak ngeri dengernya *__*)
maksudnya, anda tetap sebagai pelajar atau mahasiswa berprestasi, tapi anda juga harus sebagai entrepreneur sejati.
ketika teman-teman anda sibuk mencari pekerjaan, anda sudah mengantongi uang bahkan membayar gaji karyawan.

hiduplah pas-pasan!
pas mau naik haji, ada uang.
pas mau beli mobil, ada uang.
pas mau ke luar negeri, ada uang.
pas mau liburan, ada uang.

jangan hidup berkecukupan!
cukup naik angkot saja.
cukup jadi pegawai saja.
cukup beli sepeda saja.

so, hidup adalah pilihan!
dan setiap pilihan, anda harus bertanggung jawab.
jangan sia-siakan hidup anda dengan membuang-buang usia dan waktu.

menjadi entrepreneur, seperti peribahasa, "berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang entah kapan". Menjadi entrepreneur, bukan anda yang mengejar uang, tapi uanglah yang mengejar-ngejar anda.


Bagi yang bukan entrepreneur,
TIME IS MONEY!

Tapi bagi para entrepreneur,
TIME IS HAPPY!

so, selamat berkarya, selamat menjadi entrepreneur!



**dunia karya n cita
membara!!!

Read more...

kematian dan sang waktu

>> Thursday, 23 June 2011

nampak menyeramkan bila saia mengetengahkan tema ini.
tapi apa boleh buat toh karena ini yang semua orang akan rasakan, dari jaman baheula hingga kiwari.
moga-moga sobats semua tidak merasa gentar dengan membaca tema kali ini. enjoy aja lagi.


Ada kedekatan dan kesamaan antara kematian dan sang waktu. Betapa kematian telah menjadi pemutus berbagai kenikmatan. Kenikmatan yang telah dinikmati oleh para raja dan rakyat jelata. Kenikmatan yang tlah dinikmati oleh orang-orang kaya maupun miskin papa. Kenikmatan yang tlah dinikmati oleh para negarawan maupun para tiran.


Maka waspadalah terhadap sang waktu, dan siap siagalah terhadap kematian yang sewaktu-waktu bisa hadir di pelupuk mata, tanpa pernah ada pemberitahuan sebelumnya. Tapi bukankah tanda-tandanya tlah kita rasakan bersama?


*pagi hari yang sejuk di Kota Malang
renungan tuk masa depan [dunia karya n cita]

Read more...

engkau tetap sahabatku

>> Tuesday, 21 June 2011


dia adalah sahabatku bahkan lebih  
dia adalah yang diburu…datang padaku
sekedar lepas lelah dan sembunyi 

(Iwan Fals)


tau kan arti sahabat? arti sebuah persahabatan? tentu lebih dari sekedar sebuah pertemanan,, karena ia nampak seperti saudara dekat,, punya ga?

selama hidup, tiap 'zaman' saya selalu punya sahabat, dan biasanya hanya satu orang, dan selalu laki-laki, sedangkan sahabat wanita tidak ada, mungkin lebih bagus dijadikan teman saja, entah kenapa (*mungkin dari sononya gitu,

Sahabat-sahabat saya itu bertebaran dimana-mana. Ada yang satu kota, ada juga di kota lain. Sejak sekolah dasar hingga saya kuliah, dan ngantor di kantor pemerintah, selalu ada satu orang sahabat yang berkesan. Untuk orang per orang yang berkesan adalah saat di kampus, dan saat saya menjadi tutor di daerah Lenteng Agung. Itu adalah pengalaman berkesan yang luar biasa. Dan sekarang Allah swt menganugerahkan seorang sahabat pada saya di kantor.

tapi, saya pernah punya tim sahabat, bertujuh, dan hanya sekali dalam hidup, masing-masing berinisial HS, PM, Y, TS, DK, dan MF, terakhir saya sendiri. Hanya dua orang yang berstatus sebagai PNS yakni saya dan MF. Yang lain, HS sebagai agen properti, PM karyawan bank di Bogor, Y karyawan penerbitan, TS wiraswasta dan DK sebagai karyawan otomotif. Semuanya bertempat tinggal di kota yang sama kecuali DK yang sekarang menetap di Medan. Saya namakan tujuh orang ini sebagai tim "al-fath" artinya kemenangan, sekalipun kami tidak pernah menamai tim ini. Tapi saya terlanjur suka.

Dan selama hidup saya, keenam orang ini menempati bilik hati saya tersendiri dibandingkan teman-teman lainnya. Entah kenapa, tiap kali bertemu dengan mereka saya selalu dengan mudah melayangkan senyuman, hangat berjumpa, menanyakan masing-masing keadaan diri dan keluarga.

Mereka tidak pernah marah, sama sekali. Tidak pernah berkata-kata kasar, dan tidak pernah menyakitkan, sedikitpun. Tidak ada dendam, tidak ada kesumat, tidak pernah menyinggung kekurangan kami. Kami lebih suka bersinergi. Saling bekerja sama. Saling menopang. Saling menanggung. Tersenyum merekah. Saling berbagi kehangatan. Saling berbagi cerita dan senantiasa ceria.

Ya, dibandingkan teman-temanku yang lain, mereka berenam lebih ku sayangi. Kedekatanku dengan mereka lebih erat dibandingkan lainnya, entah kenapa. Maka saya pun kehilangan mereka tatkala berpisah karena menjalani pekerjaan masing-masing atau menjalani kehidupan bersama keluarganya.

Sebenarnya saya juga punya tim lain yang hampir sama dengan tim sahabatku yang enam ini. Mereka ada di daerah Lenteng Agung saat saya menjadi tutor dan saat saya belajar bahasa arab di UI. Mereka semua adalah sahabatku, dan tetap sahabatku.

Dan sekarang saya benar-benar kehilangan mereka. Sangat kehilangan bahkan.
Adakah Allah swt memberiku pengganti sahabat-sahabatku itu? Kalaulah tidak semua maka cukuplah satu orang sebagai sahabat sejati. Tapi saya akan tetap mengingat mereka selamanya. Semoga Allah swt merahmati mereka dan menyayangi mereka semua, para sahabatku tercinta. Enam orang sahabatku, al-fath. Juga sahabat-sahabat ceria di Lenteng Agung. Juga sahabat-sahabat ceriwisku di kelas bahasa arab LBI UI, terutama sang pengajar favorit kami, Miss Gina.


I LOVE YOU FULL


dan, kau bagaimana dengan dirimu sobats?

**dunia karya dan cita
selasa yang hening.

Read more...

Surga di Telapak Kaki Ayah

>> Wednesday, 15 June 2011


Ayah sering membuatku terpesona tiap kali berbincang dengannya.
Kata-katanya tak puitis, tapi penuh kejutan. Tiap celetukan Ayah seringkali diluar dugaan. Kadang bijak, tapi tak jarang juga canda tawa keluar dari mulutnya yang tak tersentuh kopi dan rokok itu.”

“Ayah pernah bilang kalau Ayah tak pandai berkata-kata. Ayah paling malas jika diminta untuk berbicara di depan khalayak ramai. Maka, melalui buku ini, aku ingin berbagi tiap kata Ayah yang menurutku menarik dan mengandung hikmah. Jadi, Ayah tak perlu malu untuk berbicara di depan umum lagi karena Kumpulan Kisah Tentang Ayah ini akan mewakilinya.”


{ي ا و ا ل د ي}


Ayah dan Ibu adalah dua sosok yang berperan dalam kehidupan kita. Meskipun keduanya atau salah satunya telah tiada maka sosok mereka akan senantiasa hidup dalam memori dan jiwa sang anak. Tatkala mereka masih berada di sisi kita, betapa keduanya begitu kuat mempengaruhi perjalanan hidup dan kehidupan jiwa kita. Berjuta-juta kasih sayang mereka merah merona pada wajah kita. Berjuta-juta kasih sayang keduanya bak salju yang turun membasuh dan melumuri tubuh kita. Cantik, sejuk dan elegan. Maka bayangkanlah raut wajah keduanya. Guratan raut wajahnya yang membekas dan membayangi kita. Baik di saat kebersamaan itu masih ada maupun ketika mereka telah tiada. Maka biasanya hati yang keras membatu seketika luluh begitu saja tatkala bayangan keduanya hadir di pelupuk mata. Membayangkan sorot mata keduanya yang teduh seketika membuat tulang belulang kita bergetar. Persendian menjadi lunglai lalu terduduk sambil berderai airmata.

Ada banyak ekspresi untuk mengungkapkan kerinduan sang anak terhadap mereka. Ekspresi itu bisa tertuang dalam secarik kertas yang melukiskan kerinduan, kehangatan dan kasih sayang. Secarik kertas itu bisa berupa rangkaian cerita pendek, novel atau bahkan sebuah lagu. Maka apapun bentuk ekspresi itu, sang anak berharap kerinduan itu terlunaskan dan tersampaikan meski tak terdengar secara ragawi karena terhalang oleh ruang dan waktu. Lukisan kerinduan yang membuncah dalam dada sebagai pesan kepada Tuhan, “tolong sampaikan rinduku padanya.”

Apa yang dituangkan oleh penulis merupakan ekspresi cinta. Cinta kepada sang Ibu dan cinta kepada sang Ayah. Dan kini, cinta itu ‘hanya’ terwakilkan kepada sang ayah, karena sang ibu telah tiada. Dan tentu saja, ini pun ekspresi cinta kepada sang ibu. Apapun jua. Karena sosok ibu tak kan pernah tergantikan. Sepanjang hayat, sepanjang masa.

Keagungan inspirasi. Hm, memang begitulah adanya. Dorongan kuat yang menjadikan para penulis senantiasa mengambil inspirasi dari orang-orang terdekat mereka, terutama dari Ibu dan Ayah. Sebagaimana goresan Andrea Hirata dalam buku “Sang Pemimpi”, buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi:
“Untuk Ayahku Seman Said Harun, Ayah juara satu seluruh dunia.”
 Lihatlah juga tulisan Ahmad Fuadi yang tergurat dalam buku “Negeri 5 Menara”:
“Untuk yang mulia Amak dan Ayah yang telah ‘memaksa’ anaknya untuk masuk pondok. Awalnya sebuah keterpaksaan tapi lalu menjadi kesyukuran.”
Begitu juga bagi Iwan Setiawan yang mempersembahkan kenangannya dalam buku “9 Summers 10 Autumns”:
“Untuk Ibuk, untuk Bapak.”

Ibu dan Ayah. Sosok wanita dan lelaki yang telah hadir dalam kehidupan kita, dan bersedia untuk menjadi orangtua bagi kita. Karena itulah sang penulis berusaha sekuat-kuatnya merekam jejak kebersamaannya dengan sang Ayah, ketika kenangan bersama sang ibu telah terlewati oleh sang waktu. Meskipun sebentar saja. Meskipun tidak semua tertuang dan terungkap melalui pena, itu semua sudah lebih dari cukup ‘tuk katakan, “Aku menyayangimu, Ayah.”

Nanti, saat sang anak telah dewasa, maka kebersamaan dengan mereka akan terasa begitu lekat. Maka, jenak-jenak kehidupan bersama mereka akan selalu teringat dan dirindukan selamanya. Dan kasih sayang itu takkan tergantikan dengan apapun. Maka, terinspirasilah kita dengan sang ibunda, maka terinspirasilah kita dengan sang ayahanda. Seolah-olah sosok mereka hadir di pelupuk mata, tiap kali kenangan itu muncul dalam diri kita.

Penulis ingin berbagi dan bercerita, kasih sayang itu bukan utopia. Bukan sekedar kata-kata. Karena lembutnya hati mampu menjadikan setiap peristiwa sangat berarti. Sang ayah tak pernah berkata-kata kasar padanya. Maka tatkala ada orang lain yang menyemprotkan sumpah serapahnya, jiwanya damai. Dan tanpa sadar airmatanya menetes. Ia menangis. Kedamaian itu tak menjadikan ia membalas kekasaran dengan kekasaran.

Ketidaksempurnaan itu ada pada manusia. Kita bukan pencipta. Dan sosok sang ayah memahami ketidaksempurnaan itu. Sang ayah hanya berusaha agar anak-anaknya tumbuh baik dalam lingkungan keluarga. Maka, bermain kartu adalah tabu, meskipun ‘cuma’ mengisi waktu.

Siapa bilang ‘obrolan’ itu sia-sia. Coba tanyakan pada penulis buku ini. Sederet kalimat obrolan hanya akan menjadi bincang-bincang biasa tanpa ruh, bila ia hadir tanpa prinsip yang kokoh. Pembahasan tentang pernikahan, hewan-hewan piaraan dan memenuhi janji pada orang lain, akan sangat kuat terekam bila prinsip dan kesungguhan itu menjadi pilar yang tersusun kokoh dan ajeg. Seberapa besar komitmen kita pada orang lain, maka biasanya sebesar itu pula kesungguhan kita padanya. Oleh karena itu janji hanya sekedar janji belaka, tanpa ekspresi, padahal waktu terus berlari.

Pulang malam bagi sebagian orang-orang adalah biasa. Tapi tidak demikian baginya. Ini bukan perkara biasa. Bukan karena kau hanyalah seorang wanita. Tapi lebih karena ayah ingin memuliakanmu, Nak. Ayah ingin kau beranjak dewasa dengan pemikiran sebagai seorang ibu yang tengah mengasuh anak-anaknya. Kalaulah tidak saat ini, maka anak-anakmu yang akan mewarisi kearifan pemikiran dirimu. 

Nak, jangan kotori paru-paru serta rumahmu dengan merokok. 
Dan, siapkanlah dirimu untuk menjadi pendamping setia bagi pasanganmu kelak. Cintailah pasanganmu dengan sepenuh jiwa. Karena cinta itu sebuah anugerah maka curahannya pun datang dari Tuhan Yang Mahakuasa dan Mahaperkasa. Mungkin begitulah petuah sang ayah kepada penulis.

Kenangan bersama ayah meskipun ‘hanya’ sehari akan memberi inspirasi setiap hari. Karena ketulusan itu sangat terasa pada jenak-jenak  yang tertinggal. Seperti suasana perjalanan menjelang malam dalam kereta. Sarat inspirasi. Cukuplah kenangan itu menjadi tanda bahwa ia menyayangiku.

Tatkala taman dan wewangian surga terasa dekat begitu nyata, apalagi yang kau pikirkan? Segeralah bergegas tuk menyongsongnya. Jangan bergeming terlalu lama. Tatkala Kanjeng Nabi SAW menyebut tiga kali berbakti kepada sang ibu, bukan berarti seketika pupus jika ia tiada. Sang ayah adalah pemilik terakhir penyebutan itu, meski hanya satu kali. Penulis tidak sedang mengeluarkan ‘hadits’ baru, tidak pula tafsir baru. Curahan hati pada sang ibu, terwakili pada ayah tercinta dan tergoreskan pada satu tema: Surga di Telapak Kaki Ayah.

Pada sosok pria bertubuh gembul itu. Yang tak ditemukan guratan kesedihan di wajahnya. Dan selalu melayangkan senyuman terbaiknya. Maka oleh sang penulis buku ini dipersembahkan untuk sang ayah sebagai, “Sebuah Kado untuk Ayah …”


***Tak ada gading yang tak retak
Sebagai sebuah awal yang bagus untuk menjadikan buku sebagai sebuah tulisan dan bacaan bernas, membangun dan cerdas. Maka tak ayal, tulisan dan bacaan seringan apapun akan menambah bobot si pembaca dalam membentuk pola pikir dan tingkah laku. Bertindaklah dewasa dan anggun agar kelak anak-anak kita tak berkilah bahwa ‘sang terdahulu’ tidak meninggalkan jejak kebaikan sedikitpun.
Selamat membaca dan menikmati petualangan ‘hikmah’ dalam buku ini.

Read more...

ONLINE

Powered By Blogger

About This Blog

Lorem Ipsum

Our Blogger Templates

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP