Sepi!
>> Friday, 28 May 2010
Bila sepi menghinggap
Senyumpun memudar
Kesal, sedih datang menyatu
Bisu
Membatu
Menggetarkan Jiwa, Menggugah Asa...
Bila sepi menghinggap
Senyumpun memudar
Kesal, sedih datang menyatu
Bisu
Membatu
Kata-kata mutiara
Mutiara kata-kata
Sulit loh, mencari mutiara
Iyalah, mutiara ada di dasar lautan
Makanya, orang harus menyelam dulu untuk mendapatkannya
Ugh!Enak saja. Tadi pagi kulihat Togar memarahi supir mikrolet jurusan Ps.Minggu agar segera meninggalkan 'area' ngetem. Meski ada di dalam terminal, dan disitu ada petugas DLLAJ, Togar leluasa menyuruh ini itu kepada supir" angkutan umum. Ironi. Sebenarnya siapa sih yang berwenang?
Aku sadar kawan, aku tidak sedang berada di Sidney, atau Vancouver. Aku tinggal di kota kecil pinggiran Jakarta. Semrawut.
Jalan raya Margonda dulu tidak seramai ini. Pepohonan masih berjajar di kanan kirinya. Rindang. Kini, nyaris tak satu pun pohon yang tersisa. Tumbang. Panas membara. Menyilaukan.
Pusat perbelanjaan tidak seramai sekarang. Kini justru tumbuh subur bak jamur di musim penghujan. Pasar tradisional dibenahi sedemikian rupa agar kesan kumuh dan jorok tidak lagi melekat. Perumahan" baru bermunculan di sana sini. Geliat baru sebuah kota madya.
Dengan ikon kota penghasil belimbing, Depok ingin memperkenalkan wajah baru. Bangunan spektakuler pun muncul di sini. Masjid Kubah Emas Dian AlMahri. Perbaikan jalan pun gencar dilakukan. Walhasil, Depok semakin kinclong di mata para investor.
Belum lagi, kampus ternama Universitas Indonesia 'nongkrong' sejak 1986. Dan kini tengah bebenah dan mendandani diri menjadi kampus riset ternama, terbesar dan terlengkap sedunia, demi meningkatkan daya saing di tingkat global.
Satu lagi, sungai Ciliwung yang membelah Depok cukup menjadi momok yang menakutkan bagi warga kota Jakarta karena sangat akrab membanjiri Jakarta saat musim hujan.
Lengkap sudah kota 'kecil'ku ini. Dinamis. Kreatif. Panuh elan vital. Semoga Allah swt memberkahi kota 'kecil'ku ini... Amin.
Aku tengah terkantuk-kantuk di bawah pohon beringin yang rindang. Akar"nya menjuntai anggun. seolah hendak melumuri seluruh tubuhnya, agar terhalang dari pandangan manusia. Dedaunannya jatuh perlahan saat angin berdesir pelan. Melayang. Menari. Meluruh jatuh. Lalu mendarat pelan di tanah. Indah...
Saat bersamaan, burung" kecil pemakan biji ramai berdatangan, hinggap kesana kemari sambil sibuk 'mengunyah' biji. Angin semilir menambah beban kantukku. Sementara woodpecker bersibuk ria mengintip serangga di ceruk" pohon. Tidak peduli keadaan sekitar. Sangat egois. Acuh tak acuh.
Siang ini teramat panas. Membakar sampai ke ubun". Berteduh seperti ini sangat membantu menetralkan suasana. Terlebih hatiku . Terlebih perasaanku.
Beruntung. Beruntung aku masih terselamatkan. Tapi, ah! tak sepantasnya aku mengatakannya. Tidak tahu malu. Sangat egois seperti woodpecker. Aku pucat. Tersentak.
Bagaimana bila Tuhanku marah padaku? Azabnya pedih tak terperi.
O, Tuhan ampunilah aku, terimalah aku...
Sungguh, saat ku genggam jari jemariku, hatiku berdesir kencang ...
Apakah aku tlah menjadi hamba yang bersyukur atau kufur?
O, Tuhan, maukah kau memelukku? Memeluk harapan"ku?
Saat sembap mataku, saat air mata menggenang di pelupuk mataku. Udara menerpa dan mencium wajahku. Luruh.
Aku luruh dan bersimpuh di hadapan-Mu.
Ciumlah aku!
Peluklah aku!
Apa yang tersisa dari malam" panjang selain gelap dan dingin?
Embun. Proses pembekuan uap air dari makhluk hidup yang dianugerahi nikmat oleh Tuhan. Lidahmu hanya merasakan rasa materi. Rasakan selagi kau bisa. Maka, tak ada yang lebih bodoh daripada orang yang selalu berbicara tanpa disertai akal dan hati.
Makna.
Hikmah.
Sangat sedikit orang" menemukannya. Sangat beruntung bagi yang mendapatkannya. Rayakanlah keberhasilanmu!
Luapkan.
Kerna ia wujud kasih sayang Tuhan kepadamu.
Bahaya!
Silau!
Korona matahari terlalu menyilaukan untuk dilihat dengan mata telanjang. Jangan tertantang untuk melihatnya secara langsung tanpa bantuan alat. Tanpa alat tersebut matamu akan buta. Terjadi pada saat gerhana matahari total. Tak pernah jemu bola gas matahari berpijar.
Jilatan lidah apinya mampu menjangkau ribuan kilometer hingga di dua kutub bumi yang berbeda. Menjelmalah aurora bak pelangi menari di langit malam gulita penuh bintang. Matahari pun membagi cahayanya kepada planet" lain dan bulan". Kehangatan. Pendaran cahaya.
Indah...
Bukan. Bukan maksud Khalifah Umar meragukan kemampuan Khalid. Tidak juga benci. Beliau hanya ingin merotasi pimpinan dalam pasukan kaum muslimin. Beliau tidak pernah meragukan kepemimpinan Khalid bin Walid. Beliau juga tidak ragu dengan loyalitasnya. Hanya satu. Beliau tidak ingin kaum muslimin mengkultuskan Khalid. Kemenangan yang diraih kaum muslimin bukan semata" Khalid. Adalah Abu Ubaidah ibnu Jarrah ra yang menggantikannya.
Sangat elegan. Penuh kharisma.
Saat Khalid berkata,"Aku berjuang karena Allah, bukan karena Umar".
Indah, bak cahaya yang melesat jauh, tetap terpancar dengan anggun.
"Mahasuci Allah yang telah mewafatkan Abu Bakar, Mahasuci Allah yang telah menjadikan Umar menggantikan Abu Bakar. Sungguh, Abu Bakar lebih aku cintai daripada Umar, dan Umar tidak lebih aku cintai daripada Abu Bakar."
Disinilah kejujuran.
Disinilah kebijaksanaan.
Disinilah kewibawaan terpancar.
Saat Umar berkata,"Sungguh, para wanita tidak akan melahirkan kembali laki-laki seperti Khalid"
Saat hembusan nafas terakhir, saat ia terbaring di tempat tidur. Bukan di medan laga. Meninggalkan bekas luka. Sabetan pedang, tusukan tombak dan panah. Tujuh puluh banyaknya.
"Tangkap! tangkap pencuri itu!"
"Ia berlari ke arah sana!", teriaknya sambil mengacungkan telunjuknya ke salah satu sudut gang. Diikuti beberapa orang, ia segera mengejar buruannya. Tersengal" nafasnya. Sementara yang lain mendengus tak keruan. Sial. Buruannya terlalu cepat. Lepas.
...
Nah, kawan! aq tutup ceritanya sampai di sini. Aq memang tak ingin bercerpen. Itu hanya 'coba-coba' seandainya aq membuat cerpen. Membuat kalimat langsung tak mudah juga. Meski membuat alur cerita ternyata lebih sulit. Menulis cerita tak seperti bercerita (baca: mendongeng). Lebih banyak ragu". Corat-coret. Hasilnya kaga jadi.
Begitulah kawan. Kau kan tau bedanya. Susahnya. Seluk beluknya. Sekaligus nikmatnya.
Kala kau tertarik, cobalah. Tak perlu menunda. Tak perlu ragu. Menulislah, meski satu dua.
Common!
© Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP