Di tengah temaram cahaya lilin

>> Monday, 11 January 2010

Kamis, 7 Januari 2010.
Sudah lama pena ini tidak menggoreskan puisi. Namun, kali ini saat aku sakit, saat PLN dengan gemarnya mematikan listrik penduduk, dan saat lilin yang disediakan ibuku mulai kehilangan energinya, naluriku untuk menggoreskan pena muncul kembali. Ya. Puisi. Mungkin hanya sebaris puisi yang aku tulis.
Aku, seperti terlempar belasan atau puluhan tahun silam saat negeri ini belum memiliki energi listrik yang memadai. Bahkan hingga kini, acapkali menjadi biang kerok perseteruan antara rakyat dan pemerintah.
Ini adalah sebuah ironi. Negeri dengan seribu satu sumber energi alami ini belum mampu untuk memenuhi listrik di seluruh penjuru negeri.

Read more...

Umar dan Hamzah [3rd]

>> Saturday, 9 January 2010

Merekalah keperkasaan Islam, terlahir mumpuni pertaruhkan ketajaman pedang dan nurani demi harga diri umat ini ...tiada gentar
nyali yang trus menyala, menggertak dan mematikan!
kecepatan langkah yang tak terlampaui
kekuatan raga nan tiada tertandingi
lantang suaranya, hanya kebenaran, keadilan

Di sini ku gapai rindu hingga azam terlunaskan mencari Umar Alfaruq perkasa dan Hamzah penghulu syuhada mulia ...
Merekalah kebanggaan cinta kita, hanya tuk Islam cita tertinggi
Harga tiada berbilang bagi ketangguhan yang tak pernah hilang
Cukup sudah keraguan dan malu mendera, kerna saatnya kan tiba, terlahir Umar dan Hamzah perkasa

Merekalah keperkasaan Islam tiada tertandingi
hentakkan kuda perangmu!
jangan skali kau kekang tali kendali, majulah dan trus maju!
Lihatlah!
Umar dan Hamzah takkan pernah ragu
kerna merekalah keperkasaan Islam, ketangguhan kita tiada tertandingi!


Saat Maghrib 19.00 WIB
Selasa, 10 Juli 2001

Read more...

Negeri Para Sahabat [2nd]

>> Sunday, 3 January 2010

Bila aku hidup di tanah gersang itu,
negeri empat belas abad yang lalu
yang diberkahi negeri para sahabat yang mulia
sesudah mangkatnya Baginda Nabi tercinta
bergetar asa menjunjung kalimat-Nya
bergetar raga menyongsong cinta hakiki Ilahi

Bila aku bisa menghirup udara di negeri mulia itu, empat belas abad yang lalu
kan ku tuangkan rindu di balik senja
kan ku rangkum cinta dengan segenap jiwa
walaupun darah sebagai tinta dan pedang sebagai pena
ku tajamkan penglihatan di tengah malam kemuliaan

Bila aku duduk dalam majelis di tanah itu, negeri empat belas abad yang lalu
memancar kemilau ilmu ke penjuru dunia
memancang fondasi kemajuan ratusan tahun kemudian

Bila negeri itu masih ada
kan ku letakkan ia di tanah subur kita saat ini
Bila negeri itu adalah negeri kita, Indonesia...


Sabtu
7 Juli 2001

Note: kawan, sering aku tafakur seperti ini, negeri para sahabat bukanlah negeri di atas awan yang tidak mungkin kita capai. Negeri itu nyata adanya. Kalau kau ingin tau seperti apa negeri para sahabat hiruplah udaranya dengan cara meneladani kehidupan penghuninya. Ah, kawan, aku sering berangan-angan...indah bukan?

Read more...

Beri Daku Senyum Tangis [1st]

>> Saturday, 2 January 2010

Perjalanan masih sangat panjang
surga jauh terpampang
Ku coba siapkan bekal sebanyak mungkin
terkadang aku istirahat tuk sekedar melepas lelah dan mengembalikan tenaga, perlahan tapi pasti
Sepanjang perjalanan ku perhatikan lingkungan yang menjadi tanda tanya, kebingungan dan celaan
O, mengapa tiada senyum di atas senyuman
mengapa tiada tangis di atas tangisan
Ku lihat tawa berderai di atas tangis penderitaan
Ku lihat kebodohan di atas arogansi keserakahan
Cukup sudah derai air mata
cukup sudah darah yang tertumpah
hanya satu ku harap ada
Ampunan Tuhanku masihkah ada?

Sabtu
7 Juli 2001

Read more...

3 hari di bulan Juli 2001

Bulan Juli 2001. Cuma 3 hari aku menelorkan 3 buah puisi (bukan telor sembarangan ne!), religius bangets dech. Sebenarnya sich, puisi2 yang aku buat emang berkutat masalah keislaman. Ga jauh2 lah. Tapi aku tuch lebih suka puisi balada atau epik. Biar nampak ada guratan kesungguhan disana, ciellaaa lebay dah! Tapi btw, sebenarnya ada ga sich blog yang kontennya nyuguhin puisi??? ^_^
Aku juga bikin blog berdasarkan pengalaman tulis-menulis yang dah lama aku punya. Sayangnya tidak dipublikasikan, kuatir dibajak tau! yah tau sendirilah bangsa kita ni, demen ama yang bajak2kan. Tapi ini juga gampang dibajak yak?!
Yoweslah, daripada gerutu aja mending sok atuh nikmatin sajian2ku yang lain yak..^_^
tarik maaanggg...

Wassalam

Read more...

Formasi HI (sebilah panji di bawah terik matahari)

>> Saturday, 26 December 2009

Ada gelora yang menggetarkan relung-relung hati yang cadas
Bulir-bulir peluh tlah basahi wajah-wajah berani dengan panji yang telah terpancang dalam menghunjam ke perut bumi
Pijakan kaki-kaki kami bukanlah pijakan basa-basi penghias ruas-ruas bumi
Tapi ini adalah sebilah panji yang kan mematahkan leher-leher arogansi
Kami, perombak kekuatan yang mengguncang sendi-sendi bumi persada
peretas kekakuan yang meretakkan tulang-tulang
penghalau anjing-anjing tirani
Jangan tuduh kami yang bukan apa-apa!
Kami hanyalah suara nurani yang mencoba memercikkan kekuatan yang kian padam
Kami, formasi HI tak kan lekang di bawah terik matahari
tak kan usang diterpa badai
Kami, formasi HI, para peretas jalan yang mencoba menapaki langkah-langkah berani di bumi persada tercinta ini



Bundaran HI
Rabu, 30-09-99

Tigabelas hari setelah eksplorasi Pulau Pari, aku berdemo di Bundaran HI dengan mengusung agenda yang aku dah lupa bangets (kalo gak salah tentang reformasi yang mati suri gitu dech...ini waktu zaman Gus Dur loh! weleh..weleh...). Sebenarnya kawan, puisi-puisi di Leuweung Sancang lebih dulu hadir ketimbang puisi-puisi Pulau Pari. Tapi, karena dokumen yang aku miliki rada-rada ngacak, maka jadinya yaaa gini dech.... Amatiran, kolot, dan membingungkan...haha. Tapi, biar begitu yang penting bagiku tetep hepiiiiiii.... hoho...

Read more...

Formasi Barringtonia (Elegi di Tepi Samudera) - [DUA]

Dan kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi, sesungguhnya Kau Maha Kuasa atas segala sesuatu...

Kami, para penetrasi zaman
tak layak diagungkan dan dikenang dengan alunan senapan maupun lagu
Kami, tak layak dirayakan
kerna kami adalah pengubur sejarah
sejarah yang penuh kepiluan, kezaliman dan kemunafikan serta ketidakadilan

Sungguh, kukatakan padamu:
Kami bukan apa-apa, tapi kami tak terkalahkan!

Ada saatnya pantai dan teluk tergenang oleh pasang surut yangterus merambah ke sela-sela karang saat mentari kan terbenam
Ada saatnya Brugueira menampakkan keperkasaan akar-akar tunjangnya atau Sonneratia yang menghempaskan dedaunannya ke langit tinggi
Kau lihat Barringtonia yang kian mencekam dengan suara kepiluan dari ujung samudera?
Rasakanlah itu wahai petualang muda!
Kau belum apa-apa!
Hai sobat, coba dengar yang kukatakan padamu:
Formasi Barringtonia tak cukup menghias asa dalam temaram senja
tak cukup mengguratkan hati dan wajah yang kian letih

Ini hanyalah sebuah elegi dalam maraknya abrasi
Ya, benar!
Rhizopora pun tlah menyampaikan pesan, Barrintonia kan bersama menyertai kami hingga Sancang membalut duka yang belum terobati

Petualang muda
Sadarkah kau bahwa hari ini pucuk-pucuk formasi Barringtonia melambaikan salam kepada kami
menapak bukan sekedar keingintahuan
tapi, ia harus dengan keyakinan dan pemahaman
Barringtonia, formasi yang tak usang diterpa zaman


Leuweung Sancang
Jumadil Akhir 1420 H


Note: ini ceritaku saat menerabas hutan pantai Leuweung Sancang bersama tim. Saat diriku untuk pertama kali melihat pohon Dipterocarpus dengan tinggi puluhan meter. Gagah, rindang dan kokoh. Karena inilah hutan Dipterocarpus yang tersisa di tanah jawa bahkan satu-satunya. Menyedihkan...
Kelak aku akan melihat hutan Dipterocarpus yang lebih luas dan eksotik...tahukah kau dimana itu? Ya, benar, di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan! nantikan petualangku berikutnya yaaa...

Read more...

ONLINE

Powered By Blogger

About This Blog

Lorem Ipsum

Our Blogger Templates

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP